Jumat, 07 Des 2018 07:11 WIB

Bus Bakrie Siap Lawan Bus Moeldoko

Sylke Febrina Laucereno - detikOto
Bus Listrik BNBR Foto: Dok. BNBR Bus Listrik BNBR Foto: Dok. BNBR
Jakarta - Bus listrik milik PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang dikomandani Jenderal (Purn) Moeldoko bakal kedatangan pesaing baru. PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) saat ini sedang melakukan kajian dengan pemerintah Jawa Tengah untuk pengadaan bus listrik.

Direktur Utama BNBR Bobby Gafur Umar menjelaskan saat ini perseroan memang sedang mengembangkan bus listrik untuk mendorong transportasi ramah lingkungan.

"Jadi nanti dengan Jawa Tengah itu untuk trayek Semarang Raya dan Solo Raya, jadi seperti Jabodetabek-nya. Tapi kan ini mengganti dan menambah trayek yang ada," kata Bobby dalam paparan di Bakrie Tower, Jakarta, beberapa hari lalu.





Dia menambahkan, skema yang akan digunakan dengan pemerintah Jawa Tengah adalah pihak Bakrie menyediakan sistem dan unit bus. "Jadi kita itu tidak menjual bus, tapi jual sistem transportasinya. Kita mulai hitung per hari butuhnya berapa bus dan berapa kilometer, jadi seperti taksi kita akan dibayarnya," jelas dia.

Bobby menargetkan kajian ini bisa selesai pada kuartal I 2019. Ini diharapkan bisa mempermudah hubungan antar kota dengan bus yang ramah lingkungan.

Setelah Jawa Tengah, Pulau Bali dibidik menjadi tempat berikut untuk bus listrik ini. Misalnya kawasan wisata eksklusif seperti Nusa Dua sudah menyatakan tertarik dengan bus listrik ini.



Dia menambahkan, dengan adanya tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pihaknya akan melapor ke pemerintah untuk bersungguh-sungguh 55% dan tercapai pada 2021.

"Bus listrik itu gampang kok, komponennya hanya tiga yaitu baterai, control unit dan dinamo saja yang impor. Sisanya ban, pelek, body, kaca dan AC bisa dibuat semuanya di sini. Kita akan konsorsium dengan industri lokal, operator lokal juga," ujarnya.

Bobby menyampaikan, tahun depan jika kajian sudah selesai maka ditargetkan bisa memproduksi sekitar 2.000 unit bus. Untuk investasi pembuatan bus listrik ini selama lima tahun dibutuhkan biaya sekitar US$ 200 juta hingga US$ 250 juta.


(kil/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed