Jumat, 20 Jul 2018 10:09 WIB

Premium Ada lagi, Kemajuan atau Kemunduran?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
SPBU. Foto: Eko Susanto
Jakarta - Pemerintah memutuskan memperbanyak pasokan BBM jenis Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). Langkah itu diambil untuk mengurangi kelangkaan Premium yang banyak dirasakan masyarakat.

Namun, langkah itu diprotes keras oleh pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo. Sebab menurut Agus, langkah mengurangi Premium sudah sangat sukses.


"Saya protes keras ketika Lebaran kemarin pemerintah mengeluarkan (kebijakan) Jamali Premium ada lagi, itu kebijakan sangat bodoh menurut saya karena mengurangi Premium sudah sangat sukses, orang sudah menggunakan Pertalite," kata Agus di acara focus group discussion "Senjakala Industri Komponen Otomotif dalam Menghadapi Era Mobil Listrik di Indonesia" di Jakarta.

Agus menyangkan ketika orang-orang sudah bisa beralih ke Pertalite, pemerintah justru mengembalikan Premium. Menurutnya, mengembalikan Premium ke SPBU di Jamali merupakan langkah yang tidak efisien.


"Nozzle diganti, tangki dikuras, costly. Dan saya cek pas Lebaran kemarin dari Jakarta sampai Banyuwangi yang pakai Premium nggak banyak," ujar Agus.

Menurut Agus yang melakukan riset sederhana, pengendara ojek pun sudah tidak pakai Premium lagi. Minimal mereka menggunakan Pertalite.

"Saya tanya kenapa, katanya lebih enak tarikannya. Kenapa diadain lagi, siapa yang perlu Premium? Jadi ketika saya pantau Pantura dengan Pak Menhub (ketika Lebaran kemarin), sudah pada pakai Pertalite," sebut Agus.


Sementara itu, Agus juga menyuarakan agar pemerintah segera menerbitkan kebijakan soal kendaraan ramah lingkungan yang tidak lagi membutuhkan bahan bakar fosil. Sebab, konsumsi BBM di Indonesia sudah terbilang tinggi, dan impor BBM pun cukup tinggi.

Menurut Agus, saat ini kebutuhan BBM di Indonesia sekitar 1,4 sampai 1,6 juta barel per hari. Produksi BBM lokal per 17/7/2018, 757.732 barel per hari. Sementara impor BBM, kata Agus, sekitar 800.000 barel/hari.

Menurutnya, kebutuhan BBM tahun 2030 bisa mencapai 2,2 juta barel per hari. Jika tidak menggunakan energi baru terbarukan untuk transportasi dan energi, tanpa ada penemuan sumur baru dan kilang, maka di tahun 2030 Indonesia akan impor BBM sekitar 1,7 juta barel per hari. Dengan harga minyak mentah dunia rata-rata (ICP) hari ini sekitar USD 70/barel, maka diperlukan devisa sekitar Rp 1,67 triliun/hari (dengan kurs 1 USD=Rp 14.000) untuk impor BBM.

"Kalau kita tidak giatkan energi baru terbarukan, habis uang kita hanya untuk impor. Sekarang dolar Rp 14.000 lebih, padahal kita pada saat dolar naik harusnya ekspor banyak, malah kita impor. Kita perlu mobil yang bukan berbahan bakar BBM," tegas Agus. (rgr/dry)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com