Kamis, 21 Jun 2018 10:46 WIB

Standar Tes Psikologi untuk SIM Belum Ada

Ruly Kurniawan - detikOto
Surat Izin Mengemudi (Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo) Surat Izin Mengemudi (Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo)
Jakarta - Mulai pekan depan tepatnya 25 Juni 2018 calon pengemudi yang ingin mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) harus melewati tes psikologi terlebih dahulu.

Ada banyak aspek yang akan dilihat melalui tes tersebut mulai dari kemampuan penyesuaian diri hingga kemampuan konsentrasi calon pengendara. Tetapi hingga sekarang, ketentuan tes psikologi belumlah dipastikan oleh Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR).



Hal ini dipaparkan Ahli Psikologi Forestik Lia Sutisna Latif dari Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) saat berbincang bersama detikOto lewat sambungan telepon.

Sampai saat ini, pihaknya sangat mendukung Polda dan pihak terkait. Namun untuk ketetapan tes psikologinya, APISFOR belum menetapkannya.

"Kalau kita APISFOR sampai saat ini hanya memberikan dukungan dan landasan studi, belum sampai pada menstandarkan untuk hal-hal yang harus diuji pada tes psikologi. Representatif apa saja yang mewakili. Karena sebenarnya, dari perbincangan kemarin nanti yang akan melakukan semua itu tetap dari Polda. Jadi saya tidak tahu cara penerapannya," ujar Lia.

"Misalkan nanti ada yang 20 sampai 30 pelamar, nah dalam pelaksanaannya harus ada berapa petugas psikotes yang ada disana, dua atau tiga, itu yang atur manajemen dan pihak Polda," lanjutnya.

Tetapi terlepas dari itu, Lia menuturkan bahwa pihak APISFOR sangat mendukung akan penerapan tes psikologi untuk calon pengendara di Indonesia khususnya Jakarta.

"Ini baru sosialisasi saja sehingga masyarakat tidak kaget bahwa saat buat SIM tidak hanya ada tes mata (kesehatan) dan berkemudi saja tetapi ada tes psikotes. Kita juga lihat respons masyarakat seperti apa, setuju apa tidak. Namun kalau dilihat dari sisi demografis khususnya di Jakarta, tes ini kami nilai penting," paparnya.



Lia juga mengatakan, berdasarkan data kecelakaan lalu lintas sedikit banyak disebabkan oleh psikologi pengemudi. Bukan hanya dari kelalaian semata.

"Seperti tidak sabar karena macet, dikejar waktu, dia terobos lampu merah. Atau mengambil jalur orang lain, nah ini kan prilaku yang salah. Maka faktor psikologis menjadi faktor penting yang menyebabkan tingginya angka kecelakaan lalu lintas khususnya di Jakarta," tutupnya.

"Kalau pengemudi memiliki pemahaman risiko ketika mengemudi itu sangat minim akan kecelakaan," tambah Lia. (ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed