Rabu, 25 Apr 2018 10:49 WIB

Pembatasan Truk Kelebihan Muatan Banyak Manfaatnya

Ruly Kurniawan - detikOto
Jembatan Babat Ambrol. Foto: Ainur Rofiq/detikcom Jembatan Babat Ambrol. Foto: Ainur Rofiq/detikcom
Jakarta - Ambruknya Jembatan Cincin Lama atau Widang di Tuban yang diduga karena truk kelebihan muatan atau overload beberapa waktu membuat berbagai pihak geram. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bahkan mengatakan bahwa akan mempertegas aturan jalur operasi truk agar kejadian serupa tak terjadi lagi. Seperti pemberlakuan ganjil-genap di jalur tol, truk overload tidak boleh melintas di beberapa titik tertentu, dan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu produsen mobil niaga, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), menyambutnya dengan sangat baik. Soalnya, truk overload sangat tidak baik untuk kesehatan sebuah kendaraan dan juga infrastruktur jalan.



"Kalau Kemenhub ingin menertibkan peraturan, justru kita support. Karena ini banyak ruginya. Pak Basuki (Mantan Gubernur DKI Jakarta) dahulu juga sempat mengungkapkan bahwa dalam satu tahun kita mengeluarkan Rp 40 triliun untuk perbaikan jalan saja. Masa setiap tahun kita buang-buang duit terus untuk itu saja? Seharusnya kan bisa dibangun untuk yang lain seperti jalan baru, bandara, pendidikan, kesehatan, dan infrastuktur lainnya," ucap President Director IAMI Ernando Demily kepada beberapa wartawan di Jakarta.

Selain itu, bila kebijakan pembatasan truk yang beroperasi berhasil dijalankan khususnya pada penegasan terhadap truk overload, ekspor kendaraan niaga bisa jadi akan meningkat. Soalnya, karena ada perilaku overload spesifikasi truk yang di buat di Indonesia cukup berbeda, khususnya pada bagian frame.

"Untuk kita (produsen otomotif) hal ini positif juga. Karena, hari ini contohnya, karena ada prilaku overload spek truk di Indonesia itu harus khusus. Frame-nya saja khusus, harus lebih tebal daripada frame pasaran yang ada di luar negeri. Di satu sisi Pemerintah lewat Kementerian Perindustrian meminta kita untuk ekspor. Kalau untuk ekspor kan cost-nya harus kompetitif, nah kalau framenya sudah lebih tebal harganya pasti lebih mahal juga. Gimana kita mau kompetitif," ucap Ernando.



"Jadi kita setuju. Kita juga happy kendaraan itu bisa diproduksi sesuai dengan spek seharusnya. Hari ini kan semua kuat-kuatan (frame-nya agar bisa menampung muatan lebih banyak. Kalau kita tidak ikut, kita tidak menang di pasar," lanjutnya.

Maka, semua kendaraan truk akan dibuat sesuai dengan spesifikasinya. Tidak menggunakan frame yang terlampau tebal lagi.

"Jadi nanti disesuaikan dengan spek yang seharusnya. Di samping itu, konsumen juga pasti bakal senang kalau kebijakan ini diberlakukan karena mobilnya jadi lebih awet. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) pun sebenarnya tidak happy dengan praktik logistik di Indonesia hari ini, mereka mendukung juga," tutup Ernando.



Sementara itu, jembatan nasional yang menghubungkan dua kabupaten yakni Lamongan-Tuban, tepatnya di jalur Babat-Widang, ambrol. Ambruknya jembatan kembar sisi barat wilayah Kecamatan Widang Tuban itu sampai mengakibatkan satu dump truk, dua truk tronton dan satu sepeda motor tercebur ke air. Direktur Jembatan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Iwan Zarkasi memaparkan bahwa kemungkinan besar memang ada perilaku overload.

"Itu kalau melihat beban yang ada dan sebagainya kemungkinan besar memang overload, sama seperti kejadian di Cipunagara dulu juga overload. Ambruk. Tapi ini perlu analisa lagi," katanya kepada detikcom saat dihubungi, Selasa (17/4/2018). (ruk/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed