Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Senin 09 Oktober 2017, 12:32 WIB

Adu Fasilitas dan Pelayanan SPBU Pertamina, Shell, dan Total

Ruly Kurniawan - detikOto
Adu Fasilitas dan Pelayanan SPBU Pertamina, Shell, dan Total Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Sudah menjadi kewajiban para pengendara untuk mengunjungi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) paling tidak tiga hari sekali. Ditambah dengan bertambahnya volume kendaraan yang menaik tajam tiap harinya, tak heran SPBU selalu ramai dikunjungi orang.

Kini setidaknya terdapat tiga produsen bahan bakar yang beroperasi yakni milik Pertamina, Shell, dan juga Total. Meskipun barang yang dijual serupa, namun tentu saja pelayanan dan kualitas dari nya beragam. Terlebih lagi, kini SPBU tidak hanya dijadikan tempat pengisian bensin saja, ada pula yang ingin melakukan pengecekan pada kendaraannya khususnya mobil hingga tempat nongkrong para penjual jasa ojek online saat menunggu orderan.

Nah bagaimana sih pelayanan, daya tampung, fasilitas, hingga cara konsumen memberikan feedback pada masing-masing SPBU?

Harga dan Saran Pengisian BBM

Untuk kategori satu ini, tidak dimungkiri bahwa SPBU Pertamina yang merajainya karena BBM yang ditawarkan sangatlah lengkap mulai dari yang beroktan 88 yakni Premium hingga bensin yang sudah cocok untuk mobil standar Euro5 (beroktan 98 keatas) yakni Pertamax Racing.

Pada SPBU Pertamina COCO (Corporate Ownership Corporate Operation), Premium dihargai Rp 6.500 satu liternya sedangkan Pertalite Rp 7.500, Pertamax Rp 8.250, Pertamax Turbo (RON 95) Rp 9.250, Dex Rp 8.500, hingga Pertamax Racing yang memiliki RON 100, Rp 42.000/liter.


SPBU PertaminaSPBU Pertamina Foto: Ruly Kurniawan


Sedangkan untuk Shell dan Total, mereka hanya menjual bensin dengan tingkat Oktan 92 dan 95, serta diesel. Pada Shell, Super (oktan 92) dihargai Rp 8.600 sedangkan pada Total, Performance 92 dihargai Rp 8.300. Untuk yang beroktan 95, V-Power dibanderol Rp 9.600 sedangkan Performance 95 milik Total Rp 9.150.

SPBU ShellSPBU Shell Foto: Ruly Kurniawan

SPBU TotalSPBU Total Foto: Ruly Kurniawan


Meskipun ketiganya memiliki harga yang berbeda dan cukup bersaing, namun ada satu kesamaan yakni tidak memberikan saran terkait bensin yang paling cocok untuk digunakan pada kendaraan kita. Mengingat tiap kendaraan memiliki kapasitas dan kekuatan pembakaran yang berbeda dan juga dapat merusak mesin kendaraan apabila bensin tidak dimuat sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mesinnya, hal ini menjadi penting.

"Bila mobil diisi dengan tingkatan oktan yang lebih rendah atau tinggi dari seharusnya, lama-kelamaan mesinnya akan mengalami kerusakan. Namun memang karena SPBU kami selalu penuh, jadi pemberitahuan tersebut belum merata keseluruh konsumen," kata Arif Budiman selaku kepala SPBU Pertamina di kawasan Rasuna Said kepada detikOto, Jakarta Selatan.

Pelayanan

SPBU Pertamina selalu dibanjiri oleh kendaraan entah yang mengantre untuk mengisi BBM atau untuk sekedar beristirahat. Oleh karena itu, pelayanannya terkadang cenderung tergesa-gesa dan seperlunya saja namun pelayanannya tetaplah ramah sesuai dengan jargon mereka, senyum, sapa, salam.

Setelah melakukan pengisian bensin dengan diawali 'dimulai dari nol, ya', konsumen akan ditawarkan ingin mencetak bon pembayarannya atau tidak. Namun di beberapa SPBU Pertamina COCO sudah menggunakan pra bayar dalam pengisiannya sehingga pelayanan dari petugas menjadi minim. Hal tersebut dilaksanakan untuk meminimalisir kecurangan dan menumpuknya antrean.

Sedangkan pada SPBU yang juga berwarna merah, Total, terdapat beberapa tambahan layanan seperti membersihkan kaca depan mobil ataupun mengecek tekanan ban. Terkadang mereka juga menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu di café Bonjour.

Serupa dengan Total, Shell juga terdapat layanan tambahan. Tetapi layanan tambahan yang ditawarkan oleh petugasnya lebih lengkap dan ramah mulai dari membersihkan kaca, melakukan pengecekan tekanan ban, menyarankan untuk beristirahat, menawarkan melakukan balancing, hingga melempar senyuman sembari mengingatkan untuk menggunakan sabuk pengaman.

"Saya suka sih dengan pelayanan di Shell. Oke lah," kata salah satu pengendara yang telah berlangganan di Shell, Jonas.

Yang menariknya di Shell, ketika pengendara melakukan pengisian secara penuh, mereka akan berhenti di satu titik dimana angka nominal yang harus dibayarkan telah genap seperti Rp 20.000, Rp 50.000, atau Rp 200.000. Bila pelanggan ingin terus melakukan pengisian sampai air bensin mencuat dari tangkinya, nominal yang cenderung acak akan dibulatkan ke bawah seperti Rp. 17.450 di nilai Rp 17.400, atau Rp 76.566 dibulatkan menjadi Rp 76.500.

Dikarenakan kondisi SPBU yang tidak begitu ramai dibandingkan Pertamina, setelah transaksi selesai baik Shell maupun Total cenderung lama untuk mengambil kembalian. Hal tersebut disebabkan mereka harus menyetorkan transaksi ke kasir terlebih dahulu, berbeda dengan Pertamina yang telah menyiapkan kembalian di tangan petugasnya.

Daya Tampung

Kini banyak pengendara mampir ke SPBU bukan hanya untuk mengisi bahan bakar kendaraannya saja, tetapi juga untuk beristirahat ataupun melakukan kegiatan lain seperti ke toilet, shalat, hingga menunggu rombongan atau teman.

Melihat prilaku pengunjung SPBU yang mulai bergeser ini, ketiga SPBU tersebut terbilang minim akan tempat parkir kecuali SPBU Pertamina COCO di MT Haryono. Bahkan, beberapa tempat parkir di SPBU cukup mengganggu kendaraan yang keluar masuk.

Sedangkan untuk daya tampung kendaraan untuk melaksanakan kegiatan pengisian bahan bakar, SPBU Pertamina (yang sudah COCO) dan Shell termasuk cukup luas dibandingkan Total. Dalam pengamatan detikOto di lapangan, setidaknya terdapat delapan dispenser pada Pertamina dan Shell sehingga mereka memiliki lebih dari lima terminal baik untuk ruas mobil dan motor. Untuk SPBU Total, hanya memiliki enam dispenser yang diaplikasikan pada tiga sampai empat terminal pengisian bensin.

Fasilitas

Untuk fasilitas tambahan, ketiga SPBU tersebut telah memiliki minimarket nya masing-masing seperti Bright pada Pertamina, Circle K pada Shell, dan Bonjour pada Total. Namun dari ketiga minimarket tersebut, hanya Shell saja yang belum memiliki café. Di beberapa SPBU Shell memang ada cafe sendiri.

Tidak hanya menjual perlengkapan dan peralatan seperti minimarket pada umumnya, baik Bright, Circle K, dan Bonjour, mereka juga menjual pelumas kendaraan dari roda empat skutik, hingga mobil mewah sekelas Alphard. Khusus untuk Shell, terkadang tidak menjual pelumasnya di Circle K, namun membuka booth sendiri.

Selain minimarket, Shell juga telah bekerja sama dengan bengkel dan membukanya di SPBU mereka yakni Nawilis Oil & Tire Service. Dalam bengkel mitranya tersebut, Otolovers dapat melakukan spooring dan balancing mobil kesayangannya dengan harga yang diklaim cukup menggoda. Untuk mobil hatchback seperti Mitsubishi Mirage, Ayla, Toyota Yaris, spooring dikenakan biaya sekitar Rp 296 ribu dan Rp 345 ribu untuk balancing.

Tak mau kalah, layanan serupa juga kini telah hadir di SPBU Pertamina yang telah tertera logo 'Pasti Prima'. Layanannya berupa servis ganti oli, balancing, spooring, hingga cuci mobil.

"Saya juga kan buka jasa ojek online. Jadi selain isi bensin saya juga biasanya nunggu orderan sambil istirahat di SPBU karena ada minimarketnya. Tempatnya juga sudah nyaman di Pertamina sini (SPBU Pertamina Rasuna Said-Red)," kata salah satu konsumen Pertamina, Henrik.

Bagaimana dengan toilet? Tampaknya untuk hal ini ketiga SPBU tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Hanya saja perubahan kualitas toilet di Pertamina sudah mulai diperbaiki sehingga lebih bersih.

Cara Pemberian Feedback

Ada celetukan yang bilang bahwa, bila tidak protes bukan orang Indonesia namanya. Lalu bagaimana ya apabila Otolovers protes karena pelayanan atau apapun di ketiga SPBU tersebut?

Dari pengamatan detikOto, tampaknya yang paling mudah untuk menerima dan memberikan feedback ialah SPBU Pertamina. Karena bila terdapat sesuatu yang ingin dibicarakan, konsumen dapat langsung bertemu dengan kepala SPBU-nya dan mendapatkan penanganan langsung dari kepala SPBU bersangkutan.

Sedangkan pada Shell dan Total, Otolovers diharuskan melalui beberapa SOP dahulu seperti memberikan laporan ke kepala SPBU dan akan disambungkan ke pusat, menunggu penanganannya dan putusan dari pusat, hingga eksekusi masalah.

Otolovers ada yang mau ditambahkan? (ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
FJB Otomotif +