Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Selasa 01 Agustus 2017, 18:36 WIB

Kendaraan Jarang Digunakan di Rumah, Pelumas Tetap Bisa Rusak

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kendaraan Jarang Digunakan di Rumah, Pelumas Tetap Bisa Rusak Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Mungkin sebagian dari Anda punya mobil tapi jarang digunakan, sehingga mobil jadi lebih sering diam di garasi rumah. Ternyata diamnya mobil di garasi juga bisa berpengaruh terhadap kondisi pelumasnya lho.

Menurut Lubricants Product Developer Pertamina, Mia Krishna, pelumas dalam mesin mengandung air, asam hasil pembakaran bahan bakar, dan berbagai kontaminan lainnya. Walaupun dalam keadaan diam, asam yang bercampur air dan kontaminan ini lambat laun bisa tetap merusak pelumas dan mesin.

"Salah satu tugas pelumas memang menampung asam dan kotoran yang dihasilkan pembakaran bahan bakar, supaya asam dan kotoran ini tidak menyerang dan mengotori mesin. Kalau sudah ada asam dan kotoran di pelumas tersebut, plus kelembaban yang terkonversi menjadi air saat mesin dalam keadaan mendingin, pelumasnya lambat laun tetap dapat mengalami kerusakan," lanjut Mia.

Tentunya, kecepatan kerusakan pelumas tergantung dari seberapa banyak akumulasi asam, air dan kontaminan tersebut. Semakin tinggi kilometer tempuhnya, akumulasi asam, air dan kontaminan hasil pembakaran bahan bakar pastinya juga semakin tinggi. Karena tinggi rendahnya akumulasi ini tergantung pada kualitas pembakaran dan durasi pemakaian, maka akumulasi ini bisa terjadi pada semua pelumas. Apa pun merek pelumas itu maupun kelas mutunya.

Namun memang, untuk pelumas dengan kelas mutu lebih tinggi akan memiliki ketahanan lebih baik dari kerusakan. Misalnya, pelumas dengan kelas mutu API SN akan lebih tahan dari kerusakan dibanding yang kelas mutunya API SG. Apalagi jika pelumasnya memiliki klaim sintetik.

Nah, karena karakter tiap mesin yang berbeda-beda, juga durasi pemakaian dan kondisi lalu lintas yang bervariasi, serta banyaknya kelas mutu pelumas yang tersedia, bagaimana caranya mengetahui apakah efek akumulasi air, asam dan kontaminan tersebut sudah cukup mempengaruhi kondisi pelumas yang kita gunakan?

"Sebenarnya, kita bisa memastikan apakah sudah terjadi kerusakan pelumas dengan test pelumas yang sudah dipakai tersebut (used oil) di laboratorium khusus pelumas. Namun karena konsumen umumnya awam atas hal ini dan biaya uji lab cukup mahal, maka tindakan pencegahan terbaik adalah mengganti pelumasnya lebih sering, atau selambatnya saat kinerja mesin sudah mulai terasa berbeda," jelas Mia.

Beberapa bengkel, tambah Mia, juga bisa membantu mengecek indikasi kerusakan pelumas sehingga konsumen bisa membawa kendaraannya ke bengkel tersebut. Pertamina Lubricants memberikan pembekalan kepada berbagai bengkel yang menjual produk Pertamina mengenai hal ini. Dengan demikian, konsumen bisa menghindari penggantian pelumas yang tidak perlu kalau pelumasnya memang masih bagus.

"Yang pasti, jangan hanya mengandalkan kilometer tercapai untuk penggantian pelumas ya, karena kondisi macet atau kondisi stand by yang panjang di garasi pun bisa mempengaruhi pelumas," tutup Mia. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
FJB Otomotif +