Hal ini juga disadari Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Putu.
Dirinya menyebutkan para APM memang sudah siap akan teknologi tinggi yang sangat mampu menekan emisi gas buang. Namun pertanyaan besarnya, siapkah masyarakat Indonesia menerima teknologi tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cuma masalahnya, kalau itu kita terapkan, misalnya kita bicara kepada pabrikan pokoknya mulai tahun depan harus listrik, yang ada ini industri di Indonesia semuanya tutup, yang ada semua barangnya diimpor," tambah Putu.
Namun menurut Putu ini kesempatan Indonesia untuk bisa beranjak ke sana, dan mewujudkan kendaraan yang benar-benar bersih bebas emisi.
"Sekarang kita punya waktu sampai 2030, nah sekian tahun ini supaya 2030 ini bisa menurunkan emisi karbon 29 persen. Kita pertanyakan kendaraan motor itu mau menurunkan berapa, dari 29 persen itu kendaraan yang akan beroperasi, misalnya akan berkontribusi 5 persen," kata Putu.
"Nah 5 persen itu di 2030 kombinasi kendaraan itu seperti apa, listrik ada berapa persen, hybrid ada berapa itu harus kita sepakati dulu (di ajang Focus Group Discussion (FGD)-Red). Kendaraan di 2030 itu seperti apa, kombinasinya seperti apa. Misalnya kendaraan umum yang di atas rel itu harus listrik, di jalan raya baru gas. Ini yang harus disepakati terlebih dahulu oleh semua pelaku industri otomotif," tambahnya. (lth/rgr)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk