Jumat, 23 Des 2016 16:39 WIB

Ekspor Bisa Jadi Obat Mujarab Industri Otomotif

Khairul Imam Ghozali - detikOto
Foto: Aris Ginanjar Foto: Aris Ginanjar
Jakarta - Nasib kendaraan roda dua maupun roda empat di industri otomotif Indonesia saat ini bisa dibilang sedang surut. Salah satu faktor utamanya adalah daya beli masyarakat.

Salah satu pengamat ekonomi, Faisal H. Basri mengatakan, penjualan Ekspor yang saat ini dilakukan para pelaku indsutri otomotif, dapat menjadi obat mujarab.

"Luar biasanya industri otomotif ini sekarang mulai ekspor, karena penduduk Indonesia banyak, motor sudah mencapai 8 juta walaupun sekarang masih 6 jutaan gitu. Jadi telah mencapai skala ke ekonomian, sehingga ongkos-ongkosnya relatif turun dibandingkan dengan pabrik otomotif di ASEAN lain, kecuali Thailand unutk mobil udah 2 juta kan produksinya, kita baru 1 juta," tuturnya kepada wartawan, saat melakukan presentasi, di sebuah diskusi tentang perkembangan Industri otomotif roda dua di Indonesia, di Jakarta.

Menjadi basis Ekspor yang dilakukan para produsen otomotif di Indonesia, menurut Faisal merupakan momen terbaik untuk Indonesia.

"Kita pernah sudah mengeskpor mobil 200 ribu unit dalam bentuk CBU (Completly Build up), dan CKD (Completly Knockdown) nya kira-kira sebanyak itu juga, ditambah 5 juta pieces komponen kita sudah ekspor. Semakin meningkat produksi mobil, komponennya juga makin terdorong untuk bisa dibuat di dalam negeri, kan sudah besar," ujarnya.

"Pada tahun 2014 kalau teman-teman lihat di AISI (Asosiasi Indsutri Sepeda Motor Indonesia) itu, jumlah ekspor kita 46 ribu sepeda motor, sekarang sudah mendekati 400 ribu. Jadi Indonesia sudah jadi global," tambahnya.

Namun keberlangsungan penjualan ekspor tersebut diharapkan Faisal tidak mengalami gangguan yang berat, dari segi mana pun.

"Kalau industri ini diganggu terus, maka investor pun akan berpaling. Misalkan lari ke Vietnam, nah Vietnam ini produksinya meningkat terus, disana itu tidak ada upah minimum, tidak ada sarikat buruh, ga ada macem-macem. Jadi hati-hati," ucapnya.

"Kita berharap sekali ini momentum tidak hilang karana memang sudah ada. Saya kemarin bertemu peneliti dari Tokyo, bukan dari industri otomotif, tapi mereka melihat indonesia sudah bagus," pungkasnya. (khi/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed