Dari tahun 1999 hingga 2014, jumlah bajaj dikatakan stagnan cenderung menurun. Di 1999 jumlahnya mencapai 14.612 unit sementara di 2014 14.320 unit.
"Bajaj jumlahnya nggak terlalu berkembang, stagnan dari 1999 sampai 2014 malah terjadi penurunan," Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Darmaningtyas, kepada wartawan di Jakarta.
Ini menurut Darma disebabkan beberapa hal. Misalnya sopir bajaj yang mulai beralih menjadi ojek motor, kemudian adanya peremajaan.
"Ini karena beberapa hal dominasi seperti sepeda motor, sopir banyak beralih jadi ojek, yang kedua ada semula kan bajaj oranye tapi suaranya memekakkan telinga, asapnya, mau diganti dengan bajaj biru hanya saja terjadi kementokkan entah karena monopoli dan sebagainya harganya tinggi dan sebagainya sehingga jadi stagnan," tutur Darma.
Setoran yang harus diberikan sopir bajaj ke penyewa juga dinilai tinggi sehingga membuat orang-orang berpikir dua kali dan justru beralih menjadi ojek.
"Sekarang harga bajaj Rp 70-120 juta itu sebabkan setoran mahal berpengaruh ke sopir bajaj," ungkapnya. (dry/ddn)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk