"Macet makin hari makin jadi, bukan lagi di tempat tertentu sepeti di Semanggi, sekarang jalan kampung juga macet. Sabtu Minggu juga macet," ujar Tito di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2015).
Tito menilai susah untuk membatasi jumlah kendaraan. Karena pemasukan terbesar di DKI dari pajak kendaraan bermotor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih terkait kecelakaan antara Kopaja dengan gojek pada Rabu (16/9/2015), menurutnya insiden itu terjadi lantaran pengelolaan sistem transportasi yang tidak pas.
"Kejadian Kopaja menabrak gojek di Warung Buncit, itu artinya pengelolaan sistem transportasi publik yang tidak pas. Rem nggak jalan, ada problem masalah KIR dan lain-lain. Karena kecelakaan kemarin orang jadi takut naik Kopaja, dan kendaraan pribadi malah lebih memberikan pajak kepada pemerintah," jelasnya.
"Kemacetan ini tidak pernah selesai, karena ketergantungan terhadap pajak, disinsentif kendaraan pribadi," sambungnya.
Sebaliknya, dia membandingkan untuk mendapatkan SIM kendaraan di Singapura. Hanya untuk mendapatkan SIM, pengguna kendaraan harus merogoh kocek sama dengan seharga mobil.
"Kalau kita lihat, fenomena sekarang, saat ini memberikan insentif kendaraan pribadi, satu sisi pelayanan publik. Tapi dalam penanganan lalu lintas tidak sejalan karena memperbanyak kendaraan pribadi," terangnya.
(tfn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Diklakson Gegara Lane Hogging, Sopir Yaris Ngamuk-Ngajak Ribut
Digugat ke MK, Pengendara yang Merokok Diminta Dicabut SIM-nya
Modal Peluit, Jukir Liar di Minimarket Bisa Dapet Rp 9 Juta/Bulan