Export Manager Italjet Riccardo Tartarini serta Presiden dan CEO Italjet, Massimo Tartarini bercerita panjang lebar bergantian soal perusahaannya.
Ceritanya bermula dari passion keluarga mereka. Dari sang kakek, sampai ayah mereka Leopoldo Tartarini, DNA balapan sambil naik motor sudah ada dalam diri mereka. Ayah mereka sempat dilarang balapan oleh orangtuanya. Namun ketika orangtua meninggal saat Leopoldo berumur 19 tahun, Leopoldo mulai kembali menekuni balapan motor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menggunakan motor yang framenya dibuat sendiri dan mesin BSA dia akhirnya menang di tahun 1952. Leopoldo kemudian memenangi balapan lagi di Bologna pada 1953 dan di tahun berikutnya menggunakan Benelli. Sebelum di tahun 1954-1955 dia membalap untuk Ducati.
βDia pakai mesin 125 cc saat pebalap lain pakai mesin 600, 750 cc. Itu jadi headline di surat kabar saat itu,β ujar Riccardo.
Selain membalap, Leopoldo juga mendesain motor-motor untuk Ducati. Yang paling populer adalah Ducati Scrambler model pertama.
Tetapi kecelakaan fatal yang mematahkan punggung Leopoldo praktis membuat karir balapannya usai. Leopoldo harus menggunakan kursi roda.
βMotor yang dikendarai Leopoldo loncat dari jembatan, dan tertahan oleh pohon. Dia kemudian patah punggung. Tetapi dia tidak pernah nyerah, dia terus mencoba pulih. Setelah 6 bulan akhirnya bisa pulih, namun tidak pernah bisa membalap lagi, karena dilarang oleh federasi motor Italia,β ujarnya.
Leopoldo pun kemudian nganggur. Daripada berdiam diri saja, saat kucuran uang sponsor dari Ducati masih banyak, dia kemudian memilih melakukan perjalanan keliling dunia sejauh hampir 60.000 km pada tahun 1957 mengendarai Ducati 175 dan pernah memasuki Indonesia juga.
βSaat itu tidak ada telepon, tidak ada telekomunikasi, saat itu di Indonesia tengah ada revolusi. Dia sempat dimasukkan ke penjara selama seminggu karena disangka orang Belanda,β ujar Massimo sambil tertawa.
Setelah berkeliling dunia, Leopoldo akhirnya menekuni lagi motor dan memutuskan untuk memproduksi motor sendiri dengan merek Italjet dengan pabrik di Bologna pada tahun 1959. Bologna sendiri terkenal dengan pabrik kendaraannya. Total ada 50 pabrikan dengan nama besar seperti Ferrari, Lamborghini.
βLeopoldo Tartarini menekankan perusahaannya harus sebuah perusahaan internasional perusahaan, dia tidak hanya ingin motor untuk Italia tetapi untuk seluruh dunia. 10 persen di Italia, 90 persen di luar negeri,β ujar Massimo.
Leopoldo akhirnya menyerahkan perusahaan itu untuk dikelola si anak, Massimo. Setelah beberapa tahun fokus di skuter dan motor mini yang merupakan mainan pertama, Italjet memutuskan untuk memproduksi sepeda listrik.
βMassimo yang buat model pertama. Di benak saya, roda dua itu harus ada mesinnya,β ujar Riccardo.
Ternyata orang-orang suka dengan sepeda listrik Italjet. Dalam satu bulan terjual 350 unit di tahun pertama.
βKami terus melakukan perbaikan pada prototipe, awalnya baterai di belakang, jadi agak susah untuk digenjot. Jadi secara bertahap sepeda terus diperbaiki,β ujar Riccardo.
βE-bike kami seperti motor tetapi listrik. Sekarang orang sudah mulai meniru. Kami tidak peduli dengan hal itu, karena itu berarti pesaing kami sudah ada di belakang kami,β ujarnya.
Sepeda listrik itu dikembangkan pertama kali pada 4 tahun lalu. Sepeda bisa digenjot sejauh hampir 80 km dengan waktu pengisian baterai sekitar 4 jam. Saat detikOto mengendarainya, sepeda ini sangat asyik. Dua kali genjot maka sepeda akan langsung berjalan sendiri.
Begitu pula saat berada di tanjakan, keringat pun tak ada, karena sepeda ini langsung menapaki tanjakan dengan mudah. Ketika dijual di Indonesia, harga sepeda mencapai sekitar Rp 45-50 juta.
(ddn/ady)













































Komentar Terbanyak
Mobil Listrik China Murah-murah, Kok Suzuki Pede Jual e Vitara Rp 755 Juta?
Heboh Pajak Mobil-motor di Jateng Tiba-tiba Naik Drastis, Begini Penjelasannya
Penjualan Mobil di Indonesia Nyaris Disalip Malaysia, Menperin: Ini Alarm!