Setidaknya itulah ungkapan Asdep Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Bergerak (PPUSB) Kementerian Lingkungan Hidup, Novrizal Tahar, di Halim Jakarta, Rabu 28/5/2014).
"Pencemaran udara sangat berdampak pada kesehatan masyarakat Indonesia," ujar Novrizal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data ini dikeluarkan WHO mengatakan di 2012 sebanyak 7 juta jiwa di dunia mengalami kematian akibat udara yang tercemar, dan itu mencapai seperdelapan dari kematian di seluruh dunia," katanya.
"Dari jumlah tersebut, 60.000 jiwa terjadi di Indonesia. Dan transportasi darat berkontribusi hingga 23 persen dari total emisi CO2. Dimana daerah perkotaan menyumbang 90 persen pencemaran udara seperti CO, HC, NOx, PM, O3," tambahnya.
Tidak kurang dari 9.607.787 jiwa sebesar 57,8 persen penduduk Jakarta mengalami penyakit yang berbahaya. Seperti sebanyak 1.201.581 jiwa terjangkit penyakit Asthmatic Bronchiale, 173.487 jiwa terjangkit penyakit Brochopneumonia, sebanyak 2.449.986 jiwa terjangkit penyakit ISPA.
Tidak sampai di situ, 336.273 jiwa terjangkit penyakit pneumonia, 153.724 jiwa terjangkit COPD (Cronic Obstructive Pulmo Dieses atau penyempitan saluran pernafasan, dan sebanyak 1.246.130 jiwa menderita Coronary Artery Diseases.
Karena itulah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengajak pengendara berperilaku yang ramah lingkungan, dalam kegiatan Eco Driving and Rally yang bertajuk 'Perilaku Mengemudi Ramah Lingkungan'.
Pekan Lingkungan Hidup Indonesia 2014 ini akan digelar pada 31 Mei 2014 di Jakarta Convention Center (JCC).
"Lebih dari separuh bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia sangat tergantung dari impor, baik Crude oil maupun BBM murni. Sementara, pertumbuhannya meningkat setiap tahunnya hampir 10 persen," kata Novrizal Tahar.
"Beban subsidi yang ditanggung oleh negara mencapai Rp 200 triliun di 2014. Oleh sebab itu kami mengimbau untuk seluruh pengendara untuk berkendara dengan Eco Driving yang juga turut menjaga lingkungan," tambahnya.
Selain itu KLH juga akan mengingatkan kepada seluruh pengendara untuk bisa berkendara tampa menggunakan BBM bersubsidi, yang memiliki tingkat sulfur yang lebih tinggi dibandingkan dengan BBM non Subsidi.
"Intinya ada beberapa cara untuk bisa menekan emisi dengan baik, yaitu dengan berkendara dengan Eco Driving, memilih bahan bakar terbaik yang bersih rendah sulfur, atau bisa juga menggunakan tenaga alternatif seperti gas," ujar Novrizal.
Menurut dirinya kampanye yang dilakukan lingkungan hidup kali ini sangatlah penting. Agar pengendara mobil tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi yang bisa merusak lingkungan dan memperberat anggaran negara.
(lth/ddn)












































Komentar Terbanyak
Diklakson Gegara Lane Hogging, Sopir Yaris Ngamuk-Ngajak Ribut
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk