Jakarta Tak Bisa Menampung Pasar Mobil 2011

Jakarta Tak Bisa Menampung Pasar Mobil 2011

- detikOto
Minggu, 02 Jan 2011 11:15 WIB
Jakarta Tak Bisa Menampung Pasar Mobil 2011
Jakarta - Daerah Ibukota Jakarta diprediksi tidak bisa menampung penjualan mobil nasional yang diperkirakan bakal menembus angka 850 ribu unit di tahun ini. Penjualan mobil tahun ini melebihi penjualan mobil nasional tahun lalu yang diprediksi bakal menembus angka 730 ribu unit.

Hal itu diungkapkan pengamat otomotif nasional Suhari Sargo kepada detikOto, Minggu (2/1/2011).

"Ekonomi membaik di 2011 tentu akan berimbas pada penjualan mobil yang membuatnya akan semakin meningkat. Sementara Jakarta tidak akan bisa menerima perkembangan penjualan mobil di 2011 karena infrastruktur di Jakarta tidak memadai. Mobil semakin banyak tetapi prasarana jalan tidak berubah," kata Suhari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu menurut Suhari produsen mobil yang selama terpusat di Jakarta akan mengubah pola penjualan mobil di 2011 dengan mengincar daerah selain Jakarta.

"Akan terjadi pergeseran peta pemasaran ke luar Jakarta. Menurut saya produsen akan mengincar dengan mengembangkan penjualan di luar Jakarta. Mereka juga berfikir jika Jakarta mandek maka luar Jakarta yang relatif bisa berkembang dan itu menjadi incaran produsen mobil," tutur Suhari.

Suhari menjelaskan saat ini Jakarta masih merajai sekitar 40 persen penjualan mobil nasional dimana mobil merek Toyota masih mendominasi penjualan, kemudian diikuti mobil merek Mitsubishi, Suzuki, Daihatsu dan lainnya.Pertumbuhan rata-rata kendaraan bermotor di Jakarta sekitar 9,5 persen pertahun. Sedangkan penambahan jalan tetap 0,01 persen pertahun. Dengan itu di 2011 diprediksi ada 5,9 juta kendaraan di Jakarta dengan luas jalan hanya tumbuh ke angka 40,09 juta m2.Bukan tidak mungkin 2011 atau 2012 kemacetan bakal menghantui masyarakat Jakarta.Sementara menanggapi pajak PPnBm, pajak progresif dan pembatasan BBM subdisi yang bakal menghantui pasar otomotif roda empat di 2011, Suhari mengatakan itu tidak akan mempengaruhi daya beli masyarakat.

Masyarakat seperti yang dijelaskan Suhari hanya akan mengubah pola pengeluaran setiap bulannya. "Segala macam pajak dan pembatasan BBM subsidi tidak akan mempengaruhi masyarakat. Masyarakat hanya akan berubah pola pembelanjaan saja," ucapnya. (ikh/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads