Salah satunya adalah member yang tergabung dalam APV Club Jakarta, Meistri Restiadi. Dirinya mengatakan SIM Smart bakal menimbulkan arogansi di kubu pengendara mobil atau sepeda motor.
Pengendara mobil dan motor akan lebih leluasa dan bebas menggunakan jalan raya bahkan melanggar lalu lintas untuk kepentingan sendiri tanpa mengindahkan rambu lalu lintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Meistri diadakannya SIM Smart tidak membantu orang tertib lalu lintas. Ia pun tidak setuju diberlakukannya SIM Smart dengan alasan yang pemerintah sebutkan sebagai kartu untuk memudahkan pengguna jalan ketika di tilang.
Meistri mengatakan, yang seharusnya dibenahi adalah perilaku penggunan jalan yang seharusnya lebih tertib, dan bukan mendukung SIM Smart sebagai alat bayar dosa. "Saya tidak setuju. Itu kembali ke pengemudi yang tertib lalu lintas. Soalnya masih banyak yang tidak tertib," tegasnya.
Dilain pihak, mantan ketua umum Avanza Xenia Indonesia Club (AXIC) Bagus Brawono mengatakan untuk menanggulangi tidak tertibnya pengguna jalan, petugas dilapangan harus diserta track record pengendara.
Dimana ketika SIM pengendara kedapatan sering melanggar, pihak polisi bisa menaikan denda tilang bahkan sikap untuk menarik SIM harus dilakukan tanpa kompromi.
"Polisi harus memiliki data base dan track record si pengendara. Ketika dikedapatn sering melanggar lalu lintas, bisa dendanya ditingkatkan atau malah SIM dicabut. Dan seharusnya teknologi itu memadai. Soalnya kalau tidak efek jera, malah percuma saja," tutup Bagus. (ikh/ddn)












































Komentar Terbanyak
Menlu Sugiono Ungkap Alasan Presiden Prabowo Bawa Maung di KTT ASEAN Filipina
Duh! Ketua DPRD Naik Moge Nggak Pakai Helm
Wacana KDM Hapus Pajak Kendaraan-Diganti Jalan Berbayar: Biar Adil