Saat ini Toyota mengekspor beragam mobil seperti Avanza, Rush, Innova dan Fortuner ke berbagai negara di Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin.
Produk-produk ini memiliki beragam komponen dengan kandungan lokal Indonesia yang cukup tinggi. Dengan penguatan rupiah, penjualan Toyota hasil ekspor ke luar negeri akan sedikit terpotong keuntungannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irwan lalu menjelaskan kalau Toyota mematok kurs dolar sejak awal tahun sebesar Rp 9.500. Padahal kini kurs dolar sudah di kisaran Rp 8.900an.
"Nah selisih sekitar Rp 600 itulah yang harus kita tanggung. Terlihat kecil, tapi kalau dibandingkan dengan volume dan kapasitas produksi kita angka itu sangat besar," tegasnya.
Apalagi saat ini 40 persen dari total produksi TMMIN diperuntukan untuk dikirim ke luar negeri atau ekspor dan ada rencana untuk ditingkatkan menjadi 50 persen di masa mendatang.
Sampai bulan Juli lalu, TMMIN sudah mengekspor 20.347 unit mobil yang terdiri dari Innova, Avanza, Fortuner dan Rush sementara produksi total produksi TMMIN hingga bulan Juli sudah mencapai 55.035 unit mobil.
Dan ketika ditanya sampai kapan Toyota sanggup menahan harga jual produk ekspornya, Irwan menjawab singkat. "Tergantung nafas saja, kuatnya sampai kapan kita tahan," tandasnya. (syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?