China 'Kuasai' INAPA 2010

China 'Kuasai' INAPA 2010

- detikOto
Rabu, 13 Jan 2010 17:51 WIB
China Kuasai INAPA 2010
Jakarta - Bakal diselenggarakannya pameran internasional komponen dan aksesoris otomotif (INAPA) di tanah air pada 24 - 27 Maret 2010 2010 mendatang, ternyata bisa dijadikan barometer tersendiri. China masih mendominasi industri komponen dan aksesoris tersebut.

Hal itu bisa terlihat dari catatan jumlah peserta yang bakal meramaikan INAPA 2010 kali ini. Dari 300 peserta yang terdiri dari 20 negara, China menghadirkan 70 perusahaan komponen ataupun aksesoris otomotif.

"Ini tentunya tantangan tersendiri bagi para pelaku industri komponen dan aksesoris lokal, dengan adanya INAPA ini diharapkan bisa memacu mereka untuk semakin maju," ujar Direktur Global Expo Management selaku penyelenggara, Baki Lee, di Intercontinental Hotel MidPlaza, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (13/1/2010)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

INAPA ini kembali digelar di JI Expo Kemayoran Jakarta. Tercatat, selain China, ada Singapura yang menghadirkan 50 perusahaan, lalu Thailand sebanyak 35 perusahaan, disusul Taiwan dengan 30 perusahaan, India 20 perusahaan, serta Malaysia 5 perusahaan. Sementara Indonesia sendiri menghadirkan 30 perusahaan.

"Namun kami bangga dengan antusias para peserta, karena ternyata tahun ini bisa bertambah sampai 3 kali lipat," ungkap Baki.

Pameran Bus dan Truk

Selain INAPA 2010 ada juga pameran Bus dan Truk atau The Indonesia International Bus, Truck and Component Exhibition 2010 (IIBT). Jadi nantinya selain berisi komponen dan aksesoris otomotif, juga terdapat desain-desain karesori bus dan truk, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baki menambahkan, dirinya merasa optimistis dengan penyelenggaraan tahun ini, hal tersebut terlihat dari jumlah peserta yang tercatat sebanyak 400 peserta dari berbagai negara.

"China, Thailand, Malaysia, Singapura, India, Taiwan, serta beberapa dari tanah air," tambah Baki.

Gelaran ini menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 25.000 orang, naik 10.000 dari tahun 2009 lalu, yang menyasar para pelaku industri pertambangan, minyak, dan sektor komersial lainnya, termasuk transportasi umum.

(bgj/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads