Akhirnya hal itu akan berpengaruh terhadap penjualan dari luxury sedan kepunyaan Toyota tersebut, meskipun harganya cukup memiliki nilai jual fantastis.
Seperti yang juga diutarakan pengamat otomotif, Achdiat A Suhadi, yang menurutnya, dipakainya Toyota Crown Royal Saloon oleh para menteri bakal membuat namanya melambung, karena nilainya bertambah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Image yang naik, biasanya berdampak pula pada penjualannya. Dan orang bisa saja merogoh kocek sedemikian dalam untuk menebus Crown Royal Saloon tersebut demi sebuah gengsi. "Karena mobil ini dipakai menteri," tambah pria yang biasa dipanggil Dodo ini.
Meskipun, menurut Dodo, dari segi kenyamanan, Mercedes-Benz jauh lebih bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, ia masih belum menemukan alasan yang tepat mengapa justru Toyota Crown yang digunakan dan bukan Mercy yang dipilih.
Namun Dodo menambahkan meski naik daun ketika dipakai menteri, Crown nasibnya diperkirakan akan sama dengan Volvo jika tidak dipakai menteri lagi.
"Kita bisa lihat dari harganya yang tinggi, serta pajak dan konsumsi bahan bakarnya," ujarnya.
Apalagi, nilai sebuah mobil luxury yang penuh gengsi seperti Crown, nilainya terletak dari kebaruan model, sehingga bila sudah melewati masa pakai 5 tahunan seperti itu, harganya bakal anjlok.
Jadi, bisa saja selama digunakan para menteri, Toyota Crown bakal naik daun, tapi setelah itu, namanya bakal kembali surut, seperti merek Volvo sebelumnya.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas