Hal tersebut diketahui dari pantauan detikOto dalam gelaran operasi simpatik emisi kendaraan, yang digelar di Central Park, Jalan S. Parman, Jakarta Barat, Kamis (29/10/2009)
Ketika Metro Mini 91 tersebut hendak diperiksa, petugas uji emisi sempat kebingungan karena tidak menemui knalpot pada Metro Mini tersebut, tempat sensor alat pengujian emisi nantinya diletakkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi setelah diberitahu sang sopir, ternyata knalpot tersebut tertanam jauh di kolong bus karena patah dan dibiarkan saja.
Setelah diperiksa dengan alat sensor, diketahui bahwa kepekatan asap dari Metro Mini tersebut mencapai 99,7 persen. Sementara ambang batas yang ditetapkan hanya berada pada angka 50 persen saja.
Racun emisi yang sangat tinggi tersebut biasanya disebabkan ulah dari para sopir yang dengan sengaja mengganti jarum spuyer dengan yang lebih besar, agar akselerasi Metro Mini menjadi lebih ringan.
"Tapi kan efeknya solar jadi terlalu kaya, sehingga gas buangnya kotor," ujar salah satu petugas.
Pada saat melakukan pengujian berkala, memang rata-rata Metro Mini tersebut
lulus uji emisi, karena telah menggunakan spuyer standar.
"Tapi sehabis pengujian, begitu balik ke poolnya, spuyer diganti lagi. Awas ya, jangan gitu lagi," ujar salah seorang petugas memperingatkan sang sopir. Kapok gak ya? (bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Cerita Prabowo Naik Maung: Atap Bocor, Bunyi Gledak-gledak
Jangan Kaget Lihat Harga Pertamax, Sekarang Tembus Rp 16.250/liter