Namun ternyata sedikitnya jumlah mobil ramah lingkungan ternyata bukanlah karena pabrikan mobil enggan mengeluarkan mobil yang lebih ramah terhadap lingkungan tapi lebih disebabkan karena minimnya fasilitas pendukung mobil-mobil itu, khususnya dalam hal bahan bakar.
Hal tersebut diungkapkan oleh Marketing Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia
(IMAI) Supranoto disela buka puasa bersama di Restoran Raja Rasa, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Jumat (4/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai contoh, standar emisi di Indonesia masih ada di tingkat Euro 2, padahal standar dunia sekarang sudah Euro 4. "Nah, kita bisa saja keluarin mobil berstandar Euro 4, tapi kan bahan bakar di Indonesia masih di Euro 2," jelas Supranoto.
Memang bahan bakar yang telah mancapai tahap Euro 4 telah ada di Indonesia tapi jumlahnya masih sangat sedikit dan penyebarannya pun hanya di kota-kota besar.
"Perhatikan saja," cetusnya.
Padahal faktor bahan bakar ini adalah faktor yang sangat vital bagi terealisasinya mobil ramah lingkungan. "Karena bila kita maksa ngeluarin mobil berstandar Euro 4 tapi dengan bahan bakar yang masih buruk seperti sekarang ini, baru sebentar saja, mesin mobil itu akan rontok," pungkasnya.
Karena itulah Supranoto meminta keseriusan pemerintah membenahi hal tersebut agar pabrikan juga semangat memperbaharui teknologi mereka. "Sekarang yang kita bisa lakukan hanya menunggu keseriusan pemerintah saja, bila pemerintah sudah siap, kita tinggal masukkan saja, gampang kan," ujarnya.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
BBM Shell Kosong, Bahlil: Negara Nggak Cuma Ngurus 1 Kelompok!
Viral Istri Ketinggalan di Rest Area saat Mudik, Diantar Polisi Naik Moge
Sindir Mobil Gubernur Rp 8 M, Prabowo: Mobil Presiden Saja Rp 700 Juta