Tak ketinggalan komunitas otomotif yang juga turut angkat komentar mengenai ekspektasinya terhadap pilpres tahun 2009 kali ini.
Seperti yang diutarakan perwakilan dari Mercy Club Indonesia, melalui ketua umumnya Aditya Adinata, yang menyoroti masalah seputaran pembatasan mobil tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah kedepan juga harus bisa memikirkan dengan bijak, kemampuan daya beli masyarakat, kalau mobilnya dibatasi, sementara mereka tidak mampu membeli mobil baru, kan kasihan," ujar Adit ketika dihubungi detikOto, Selasa, (7/7/2009).
Setidaknya, harap Adit, pemerintah bisa memberikan solusi yang memuaskan banyak pihak, bukan hanya kebijakan yang menguntungkan satu pihak saja.
Sementara perwakilan komunitas roda duanya, Yamaha V-Ixion Club Indonesia (YVC) pun turut menyumbangkan aspirasinya.
Secara pesimis, YVC melalui salah satu anggotanya, Ade Arfan, mengungkapkan, komunitas motor itu sulit untuk mengungkapkan aspirasinya mengenai sosok capres yang tepat.
Menurut dia, saat ini banyak yang mesti dilakukan oleh capres, bilang saja soal perilaku polisi di jalan raya.
"Memang kita pun tidak mau menggeneralisir seluruh polisi berperilaku tidak terpuji, hanya kan faktanya masih banyak polisi yang masih menerima uang damai, itu salah satu contoh saja ya," ujarnya.
Dia meminta, capres lebih responsif terhadap hal ini. Selain itu perbaikan jalan raya. Banyaknya jalan yang bolong tentunya sangat
merugikan dan membahayakan pengguna motor.
"Memang bukan presiden langsung, tapi kan setidaknya Presiden bisa memberikan teguran pada instansi terkait mengenai hal itu," ungkap Ade.
Hal senada dari beberapa perwakilan komunitas lainnya, seperti Innova Community, Terios Rush Club Indonesia (TERUCi).
Mereka mengeluh soal jarangnya isu atau topik mengenai seputaran otomotif yang jadi pembicaraan para capres.
Kan tidak hanya industri otomotifnya saja, keadaan jalan, rambu, marka, itu semua masih banyak yang harus dibenahi tapi tidak pernah dibicarakan oleh para capres.
"Padahal, kecelakaan paling banyak karena rusaknya sarana jalan, termasuk rambu dan markanya," ujar Ade.
Namun mereka semua bersepakat, siapapun yang nantinya bakal terpilih sebagai presiden, hendaknya bisa menampung aspirasi semua pihak tanpa bermaksud memilah-milah.
"Kita sih sebenarnya tidak ada masalah siapa yang nanti terpilih, selama masih bisa touring, ya kita dukung," ujar Perwakilan dari TERUCI, Tedjo Poerwanto HK.
Hal tersebut bukan karena pesimisme berlebihan mereka, sehingga membuat mereka apatis terhadap pelaksanaan pilpres tersebut.
"Bukan karena kita apatis lo, kita tetep nyontreng kok besok," ujar Ketua Umum Innova Community Kicky Nelwan.
(bgj/ddn)
