Mobil Bahan Bakar Gas yang Penting Aman

Mobil Bahan Bakar Gas yang Penting Aman

- detikOto
Selasa, 02 Jun 2009 13:05 WIB
Mobil Bahan Bakar Gas yang Penting Aman
Jakarta - Rencana PT Pertamina persero untuk mengkonversi bahan bakar kendaraan dari BBM ke gas, ternyata tidak semudah membalikkan tangan.

Banyak hal yang harus diperhatikan, terlebih bagi kepentingan pengguna mobil sendiri yang nantinya akan mengkonsumsi gas bagi kendaraannya.

Beberapa anggota komunitas otomotif pun angkat komentar mengenai rencana pabrikan minyak negara tersebut, kepada detikOto, Selasa (2/6/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sebagai user yang penting aftersales service-nya, apa benar-benar sudah aman, karena kan banyak yang enggak bener," tegas Ketua Umum Honda Automotif Club Indonesia, Andreas Boediman.

Andreas menambahkan, bagaimana untuk mobil-mobil baru yang masih terikat garansi? Karena dengan dilakukannya perubahan pada mesin, bisa jadi bakal menggugurkan garansi tersebut.

"Kecuali kalau ada fasilitas resmi dari ATPM. Karenanya, akan lebih baik diawali oleh ATPM, bukan usernya," ujarnya.

Selain itu, masih menurut Andreas, yang paling banyak menyumbang polusi kan kendaraan umum, bukan kendaraan pribadi.

"Karena mereka jarang service, sementara kita kan, sebagian besar rutin melakukan service," tutupnya.

Begitu juga komentar dari perwakilan Innova Community, melalui ketua umumnya, Kicky Nelwan.

"Menurut kami rada aneh kebijakan tersebut, karena belum ada contohnya," ujarnya.

Kicky mempertanyakan, apakah ada negara lain yang benar-benar hanya menggunakan gas sebagai bahan bakar kendaraan-kendaraannya. "Setahu saya belum ada kan?" tanyanya.

Kecuali bila sebelumnya ada contoh, mungkin boleh saja kebijakan tersebut diterapkan.

Namun perwakilan Terios Club Indonesia, Tedjo Poerwanto HK, mengaku setuju bila memang kebijakan tersebut diterapkan.

"Kalau perlu tidak hanya Jabodetabek, tapi seluruh Indonesia," ujar pria yang pernah mengajukan diri sebagai caleg ini.

Namun, untuk pengadaan infrastruktur pastinya sulit dan bakal memakan waktu yang lama. "Belum lagi ketahanan alatnya, kalau sudah 3-5 tahun rusak, ada tidak suku cadangnya?" tutup Tedjo.

(bgj/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads