Sejauh ini, sudah ada tiga produsen yang mulai mempublikasikan prpoduknya, seperti INKA dengan GEA, Super Gasindo Jaya dengan Tawon dan Universitas Negeri Semarang dengan Arina.
Kesemuanya itu adalah murni buatan tangan-tangan anak bangsa, yang meskipun secara bentuk dan desain dianggap belum mumpuni untuk menjarah pasar, namun, keberanian mereka dalam berinovasi patut di acungi jempol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, lanjut Widya, permasalahan terjadi ketika hendak membuat atau memproduksi produk tersebut secara masal, "Karena kita kan dari Universitas, sebenarnya tugasnya hanya riset," ujarnya.
Sehingga, tambah Widya, hasil riset tersebut nantinya diambil alih oleh pihak ketika, seperti pemerintah.
"Seharusnya ada kordinasi antara akademisi sebagai periset, pemerintah sebagai pembuat policy dan investor, ketiga itulah yang bisa membuat industri otomotif kita kuat," paparnya.
Setali tiga uang dengan Arina, Tawon pun mengemukakan hal yang sama.
Desain bukan masalah, namun bagaimana caranya untuk memproduksi dalam jumlah banyak dan memasarkannya. "Itu yang masih lemah dari kami," ujar CEO PT SGJ, Koentjoro Njoto.
Menurutnya, setidaknya, pemerintah melalui kepanjangan tanggannya, yakni perbankan, bisa memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk bisa memiliki mobnas tersebut.
"Bentuknya bisa dalam bentuk pemberian bunga kredit khusus atau potongan harga," tukas Koentjoro.
Oleh karena itu, hasil inovasi anak bangsa tersebut, setidaknya diharapkan dilirik oleh pemerintah, dan kedepannya memberikan bantuan dalam bentuk apapun.
Begitu juga dengan GEA, yang sampai sat ini sudah melalui berbagai uji demi mendapatkan sertivikasi, "Namun, nantinya kalau semua sudah lulus uji, ketika ingin memproduksi, kita masih lemah dalam hal pembiayaan," ujar Marketing INKA, Iwan Ridwan.
Selama ini, GEA memproduksi unitnya dengan dana sendiri, "Dari 10 unit pesanan BPPT, kita sudah bisa menyediakan 5 unit," tambah Ridwan.
Karenanya, GEA mengaku belum berani memasarkan unitnya secara umum, karena selain kendala biaya produksi, GEA pun masih banyak yang harus disempurnakan.
Sementara itu, Menteri Perindustrian, Fahmi Idris, mengemukakan, bahwa hendaknya perusahaan besar memberikan sponsor terhadap produk lokal tersebut.
"Bisa dari swasta maupun pemerintah," ujarnya.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas