Namun, menanggapi hal itu, para ATPM seolah bersepakat, bahwa pelemahan dolar belum tentu bisa langsung menurunkan harga jual suatu produk.
Rupiah semakin perkasa terhadap dolar AS. Jika sebelumnya di awal Maret dolar sempat menembus Rp 12.000, kini dolar AS bertengger di posisi Rp 10.800.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa perwakilan ATPM ikut berkomentar mengenai hal tersebut kepada detikOto akhir pekan lalu.
"Kenaikan harga selama ini belum merefleksikan kurs dolar yang pernah mencapai Rp 12.000," tutur Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia, Jongkie D Sugiarto.
Menurutnya, saat itu pasar sedang anjlok, sehingga terpaksa menaikkan harga, hanya saja tidak sampai mengacu pada nilai kurs Rp 12.000, karena kalau dipaksakan, daya beli masyarakat menjadi korban.
Sehingga, ketika sekarang dolar mengalami pelemahan, ATPM hanya bisa melakukan koreksi harga jual terhadap kurs sebelumnya, bukan menurunkan harga.
Pendapat serupa disampaikan Division Head National Sales Proton Edar Indonesia Fransisco Sirait. Menurutnya, penurunan dolar tidak akan langsung berpengaruh terhadap harga jual produknya.
"Selama ini, ketika meluncurkan produk, Proton sengaja memasang harga penetrasi, maksudnya, harga yang direncanakan akan naik,β ujarnya.
Tujuannya, lanjut Fransisco, memberikan kesempatan bagi pasar untuk menyerap produk dengan harga promosi.
"Jadi memang sengaja kita turunkan, sehingga ketika dolar turun pun, kita tetap melakukan koreksi kenaikan, bukan lagi penurunan," ujarnya.
Sementara itu, Suzuki Indomobil Sales pun mengakui hal yang sama, melalui Public Relation 4W Suzuki Indomobil Sales, Dimelza Sharindradini.
"Turunnya dolar sebenarnya bukan acuan secara langsung, karena banyak faktor lain yang mempengaruhi harga jual. Sehingga, penurunan sulit untuk dilakukan," ujarnya.
Akan tetapi, para ATPM bisa saja melakukan pengalihan pada sektor lain, seperti halnya Proton dan Suzuki yang melakukan penambahan fitur dan aksesoris maupun program-program promo pada produknya, namun harga tidak sampai turun.
Sehingga, menurut Jongkie lagi, dengan tetap mempertahankan harga saat ini saja sudah bagus, walaupun kedepannya, penyesuaian tetap harus dilakukan.
(bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Ngaku Mau Swasembada Energi, Indonesia Malah Impor Etanol dari AS