Hal tersebut disampaikan Marketing Planning dan PR Director GMAI, Debora Amelia Santoso di sela-sela penyerahan 2nd Chevy Writing Award di Grand Hotel Kemang, Jakarta, Kamis (15/1/2009).
"Kami memang sedang berusaha memasukkan Chevrolet Volt ke pasar Indonesia. Walaupun untuk sekarang itu masih sebatas rencana," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itulah, saat ini kami masih melihat perkembangan infrastruktur di Indonesia," ujar Debora.
Belum lagi masalah kurs dolar yang masih tidak menentu, tingginya pajak serta harga Volt yang masih terbilang tinggi. Untuk itu, Debora menjelaskan bahwa GM saat ini sedang mempertimbangkan sebuah tempat yang terdekat untuk memproduksi Volt yang akan menjadi pusat produksi Volt di Asia Pasifik.
"Kemungkinan kami meminta China untuk memproduksi Volt dan menjadi pusat produksi Asia Pasifik," tukas Debora.
Volt merupakan sedan hybrid yang berbasis mesin bensin E85 (etanol) dan mesin elektrik yang disebut E-REV (Extended-Range Electric Vehicle).
Dengan perpaduan mesin yang kreatif tersebut Volt pun dapat berjalan sejauh 64 km. Hasil tersebut dihasilkan dari baterai lithium-ion yang mempunyai 220 sel berdaya 16-kWh yang ketika energi baterai habis, mesin bensin/E85 (etanol) akan segera mengubah fungsinya sebagai generator sekaligus penggerak sementara hingga daya listrik pada baterai terisi kembali.
Namun jangan ragukan kekuatan mesin cerdas itu dalam berjalan. Karena dengan perpaduan tersebut tenaga maksimum sebesar 150 hp pun dapat dengan mudah tercapai dengan torsi yang mencapai 370 Nm.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Intip Garasi Gubernur Terkaya di RI yang Hartanya Tembus Rp 900 Miliar
Opsen Mencekik! Muncul Gerakan Setop Bayar Pajak Kendaraan