Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur PT Indomobil Gunadi Sindhunata ketika dihubungi detikOto, Senin (1/12/2008).
"Memang kami melakukan beberapa cara efisiensi, seperti, pertama, meniadakan dahulu kerja lembur. Kedua, mengefisiensi shift. Maksudnya, misalnya sebelumnya 2 shift sekarang menjadi 1 shift. Selanjutnya, menaikkan harga," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adanya pelemahan nilai tukar rupiah bahan baku nilai tukar dolar ataupun yen yang naik hingga 30 persen juga dari naiknya harga bahan baku," ujarnya.
Yang terakhir dilakukan Indomobil adalah memangkas produksi sebesar 30 persen. "Ini selain karena masalah-masalah tadi (nilai tukar yen dan dollar dan naiknya harga bahan baku) juga lebih disebabkan karena menurunnya daya beli masyarakat sekarang ini, jadi kami pun menyesuaikan dirilah dengan keadaan pasar," ujarnya.
Gunadi menegaskan pihaknya tidak berencana melakukan pemotongan jumlah karyawan meski situasi saat ini terhitung berat. Saat ini terbetik kabar, bahwa pihak Indomobil akan melakukan PHK sebanyak 3.000 karyawannya.
"Belum terpikirkan oleh kami untuk mem-PHK karyawan sebanyak itu, kami masih yakin bisa melewati krisis ini, soalnya waktu krisis Asia di tahun 1998 pun anda lihat sendiri, kami masih dapat bertahan. Jadi, bila kami lemah, Indomobil pasti sudah tidak ada sekarang," tegasnya.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo menambahkan pihaknya meminta ATPM untuk menjauhi opsi PHK bagi karyawannya.
"Kami berharap krisis ini akan berakhir pada pertengahan tahun 2009, karenanya, ATPM kami beritahu untuk melakukan langkah-langkah efisiensi dulu seperti misalnya mengganti mengurangi kerja shift dari 2 menjadi 1 shift saja, menaikan harga produk, dll. Yang jelas jauhi dulu kata-kata PHK itu," ujarnya.
PHK karyawan selain merugikan bagi karyawan disisi lain juga merugikan bagi pengusaha. "Karena bila solusi PHK yang diambil, kasihan kan para buruh dan pekerja, mau makan apa mereka," ujarnya.
Di saat krisis seperti ini, lanjutnya harus ada sikap saling mengerti di antara para pengusaha dengan buruh.
"Maksudnya, para pengusaha jangan sampai mem-PHK karyawannya, namun memilih langkah-langkah efisiensi di atas. Dan buruh juga jangan dulu meminta kenaikan upah di saat krisis ini. Tapi setelah krisis berakhir bolehlah," jelasnya.
Karena bila buruh menuntut kenaikan upah pada pengusaha yang memang sekarang sedang terbelit pada krisis ini, bisa saja dikabulkan. Namun tentu nanti ada resikonya, ya gelombang PHK itu tadi.
"Sebab, pengusaha kan bisa saja memenuhi tuntutan kenaikan upah, tapi kan duit pengusaha juga terbatas. Jadi, sebagian buruh dinakain upahnya, sebagian lagi ya di PHK. Karena upah buruh yang di PHK itukan untuk menutupi jumlah kenaikan upah yang dituntut buruh sendiri. Jadi runyamkan masalahnya," ujarnya.
Bambang meminta adanya saling pengertian di antara pengusaha dan buruh. Karena kan pengusaha tidak akan bisa berproduksi bila tidak ada buruh.
"Begitu pun sebaliknya, buruh tidak bisa bekerja kalau pengusahanya bangkrut. Karena itulah, sekali lagi saya tekankan untuk saling mengerti di saat krisis ini. Mari kita jalan dulu bersama. Mari kita prihatin dulu," ujarnya. (ddn/hen)












































Komentar Terbanyak
Di RI Banyak Merek Motor Listrik, Kenapa Harus Emmo Rp 50 Jutaan buat MBG?
Bengkel Belum Ada, Kok BGN Nekat Beli 25 Ribu Unit Motor MBG?
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?