Pejuang Kehidupan AHM se-Indonesia di Ekspedisi Nusantara Roadshow

Pejuang Kehidupan AHM se-Indonesia di Ekspedisi Nusantara Roadshow

- detikOto
Selasa, 17 Jun 2014 00:00 WIB
Jakarta -

PT Astra Honda Motor telah mengapresiasi 8 Pejuang Kehidupan. Bekerjasama dengan main dealer 7 provinsi di wilayah Sumatera dan Jawa, AHM memilih sosok-sosok yang dianggap telah berdedikasi tanpa pamrih pada masyarakat.

Para Pejuang Kehidupan ini rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk berkontribusi terhadap kemajuan lingkungan di sekitarnya, baik dari segi pendidikan, layanan masyarakat maupun perlindungan anak jalanan dan yatim piatu. Atas dedikasi mereka ini, AHM memberikan apresiasi dalam bentuk bantuan langsung.

Diharapkan bantuan dari AHM dan main dealer tersebut dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan para Pejuang Kehidupan. Penyerahan donasi ini dilakukan di sela-sela acara Ekspedisi Nusantara Roadshow. Diharapkan juga para Pejuang Kehidupan dapat menginspirasi pengunjung dengan kisah hidup mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspedisi Nusantara Roadshow merupakan bazar motor sport terbesar di Indonesia, yang telah berlangsung di 80 kota seluruh Indonesia sejak 3 Mei – 15 Juni 2014. Berikut ini adalah profil singkat kedelapan Pejuang Kehidupan yang tersebar di 7 provinsi se-Indonesia tersebut:

1. Fadlani, Guru dan Penjual Susu Keliling (Jakarta)

Demi kemajuan pendidikan di sekitarnya, Fadlani (62) mendedikasikan waktunya sebagai guru honorer di Madrasah dengan upah hanya Rp 300.000 sebulan. Untuk mencukupi kebutuhannya, pada sore hari Fadlani beralih profesi menjadi penjual susu keliling. Setiap hari bapak 7 anak ini bisa menempuh jarak 10 km dari rumahnya di Mampang Prapatan hingga ke area Cipete menggunakan sepeda ontel. β€œUntuk sehari-hari saya mengandalkan keuntungan dari jual susu. Saya hanya berharap murid-murid saya cerdas. Saya ikhlas, tidak mengharapkan yang lain,” ujar kakek dari 10 cucu ini.

2. Ricky Amsal, Pengajar Fotografi Remaja (Medan)

Ricky (31) hanya bermodalkan satu kamera pocket, Nikon D60 dan handycam ketika memulai niat sosialnya pada tahun 2009. Idenya muncul ketika melihat banyak anak remaja menghabiskan waktu dengan aktifitas yang tidak bermanfaat. Ricky pun mengajak mereka belajar fotografi secara gratis. β€œSaya memikirkan kegunaan dari keahlian tersebut bagi mereka di masa mendatang. Segala kesulitan dan hambatan jadi sebuahtantangan yang menambah semangat untuk terus mengajari mereka,” ujar Ricky.

3. Sahri, Pengurus Rumah Singgah Anak Jalanan (Cimahi)

Sahri (48) mendirikan Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan sejak tahun 2009. Tanpa ada bantuan dana dari pihak mana pun, Sahri menampung anak-anak jalanan dari berbagai macam latar belakang. Sebagian besar bahkan pecandu narkoba. Saat ini ada 25 anak yang menetap. Selain menampung dan memberikan pendidikan gratis, Sahri dan istri juga merehabilitasi anak yang kecanduan narkoba.

4. Marthins Hidungoran, Pencetus Supeltas (Solo)

Hanya bermodal topi dan peluit, Marthins (33) mencoba mengurai kemacetan di kawasan Solo Grand Mall yang terkenal padat kendaraan bermotor. Marthins pun mengajak sesama anak jalanan untuk ikut dalam aksinya yang dinamakan SUPELTAS alias Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas. Gaya mereka ramah, penuh senyum, tegas dan lincah. β€œSaya tidak pernah berharap mendapat uang setiap melihat kendaraan yang saya seberangkan berhasil lolos dari macet. Saya melakukan semua ini dengan tulus dan tanpa pamrih,” ujar Marthins.

5. Welysa Dompas, Penyapu Jalanan (Semarang)

Sempat mendapat cemoohan warga sekitar karena pekerjaan yang dilakukannya dianggap rendahan, Wely (30) tidak berkecil hati. Dia tetap bersemangat mengumpulkan sampah yang masih berguna untuk didaur ulang. β€œPekerjaan yang saya lakukan ini halal. Selain itu, lingkungan jadi terjaga kebersihannya,” ujar Wely.

Beruntung, sekarang sudah cukup banyak masyarakat yang mengapresiasi kegiatan Wely dengan memberikan sumbangan yang sama sekali tidak dia harapkan. Seringkali Wely mendapatkan sembako atau uang dari warga komplek perumahan yang dia bersihkan sampah-sampahnya.

6. Oentung, Pengurus Panti Asuhan (Semarang)

Banyaknya kasus pembuangan bayi menginspirasi Oentung (56) untuk mendirikan Panti Asuhan Wikrama Putra. Oentung rela mengorbankan waktunya untuk mengasuh ke-76 anak yatim piatu tanpa pamrih.

7. Effendi, Pengatur Lalu Lintas (Palembang)

Bertekad membantu polantas mengatur lalu lintas, Meidy (68) bekerja setiap hari di simpang PUSRI. Meidy bekerja di jam-jam sibuk yakni pukul 7-9 pagi dan pukul 4-6 sore, tanpa meminta imbalan. β€œUmur bukanlah suatu kendala untuk berbuat baik bagi orang lain. Meski orang kadang mencemooh, tapi pada akhirnya orang akan menilai dari apa yang kita buat,” kata Meidy.

8. Septian Wasjianto, Pengatur Perlintasan Kereta Api (Surabaya)

Septian (20) setiap hari bekerja di perlintasan kereta api jalan Gayungan – Ketintang, Surabaya. Dengan ramah, Septian membantu pengendara yang melintasi rel kereta api tanpa meminta upah pada pengendara yang lewat. Jasa Septian terasa bermanfaat bagi warga yang melintas karena perlintasan kereta api tersebut tidak memiliki palang pintu sehingga rawan kecelakaan.β€œKebaikan tidak bernilai selama diucapkan akan tetapi bernilai sesudah dikerjakan,” tutup Septian.

(adv/adv)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads