Senin, 11 Jan 2016 09:35 WIB

Johan Budi, 'Raja Jalanan' dari Mojokerto

Ikhwanul Khabibi - detikOto
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Selayaknya lelaki lain, Johan Budi juga pernah merasakan masa muda yang penuh gelora. Masa-masa di mana semangat muda dan jiwa nakal memuncak.

Mata Johan menerawang jauh kala berkisah tentang masa mudanya yang indah. Di masa puber itu lah dia mulai berkenalan dengan sepeda motor yang hingga kini menjadi hobinya.

"Hobi saya naik motor, sejak SMA dulu saya hobi memang. Saya senang naik motor, ada sesuatu yang orang kalau merokok, kan orang kecanduan merokok, nah saya kalau naik motor itu merasakan ada sesuatu yang lain lah. Ada kepuasan lain saat naik motor," kata Johan beberapa waktu yang lalu.

Mantan Jubir KPK itu masih ingat betul kala sang ayah mengenalkannya dengan sepeda motor. Kala itu, dia baru duduk di bangku SMP ketika pertama kali berkenalan dengan kuda besi yang akhirnya membuatnya jatuh hati.

Motor pertama yang dikendarainya adalah motor merek Yamaha 70. Motor bebek itu menemani kehidupan Johan cukup lama sebelum akhirnya dia mendapatkan motor jagoannya, tepatnya saat duduk di bangku SMA.

"Saya pernah pakai motor Yamaha bebek, kemudian dibeliin bapak saya itu motor Suzuki GP 100," kenangnya.

Motor Suzuki GP 100 inilah yang kemudian menjadi tunggangan andalan Johan semasa SMA. Johan muda lalu mulai mengenal dunia balap liar, dan motor pemberian sang ayah selalu menjadi andalan saat balapan.

"Dulu ada merk GP 100, itu motor saya dulu, tapi knalpotnya sudah diganti sebutannya dulu knalpot telo, terus karburatornya diborosin, tarikannya mantep. Dulu lawannya RX King gitu," kisah Johan diselingi tawa lepas.

Jalanan di sekitar Mojokerto dan Surabaya menjadi 'sirkuit' andalannya. Taruhan pun dilakukan agar balapan terasa lebih bersemangat dan adrenalin memuncak.

"Dulu saya suka balap liar, tapi dulu istilahnya bukan balap liar, dulu di Jawa Timur itu Surabaya sekitarnya itu ada namanya trek-trekkan. Itu taruhan dulu, saya sering lakukan itu. Dulu ada jalan tol, tapi jangan diasumsikan kayak sekarang, dulu itu motor bisa masuk, itu sama teman-teman suka ngadu motor itu dengan knalpot yang diganti, dulu ada istilahnya knalpot telo, saya seneng itu," tutur Johan.

Johan Budi mengendarai salah satu koleksi motornya (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom)


Hobi motornya pun berlanjut hingga kini. Sebelum menjadi Plt Pimpinan KPK, hampir tiap hari Johan mengendarai sepeda motor menuju ke kantor.

Selama menjadi Jubir KPK, Johan lama menaiki motor Bajaj Pulsar sebelum akhirnya berganti Vespa. Menurutnya, ada kepuasan tersendiri saat melaju dengan sepeda motor di jalanan.

"Waktu di KPK saya sering naik motor, saya punya mobil tapi saya lebih suka naik motor, bahkan sampai jadi deputi itu saya masih naik motor untuk kerja. Tapi begitu jadi pimpinan kan nggak boleh lagi naik motor, aturannya kan nggak boleh, mungkin dari sisi keamanan," ujar ayah dua anak itu.

Menjadi Plt Pimpinan KPK berimbas pada kehidupan pribadinya. Johan tak bisa lagi mengendarai motornya untuk alasan keamanan dan dia memutuskan untuk menjual vespa miliknya.

Namun, sebulan sebelum masa tugasnya sebagai Pimpinan KPK selesai, Johan memutuskan untuk kembali membeli sepeda motor. Pilihannya pun jatuh pada motor KTM Duke yang kini bisa dikendarainya sesuka hati.

"Beberapa waktu yang lalu saya beli motor lagi. Rencana saya yang belum terlaksana dengan teman-teman media itu touring dengan motor ini," tutur Johan sambil menunjukkan motor andalannya itu.
(kha/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com