ADVERTISEMENT
Rabu, 01 Jul 2015 09:13 WIB

Wawancara Khusus

41 Tahun Kiprah Yamaha di Indonesia, Tantangan dan Strategi ke Depan

Arif Arianto - detikOto
Jakarta - Bulan Juli ini Yamaha Indonesia menapak usia 41 tahun. Pasang surut penjualan telah dialami merek berlambang garpu tala ini, termasuk pada empat bulan pertama tahun ini.

Namun, berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Yamaha Indonesia mengaku tetap optimistis bisa melalui kondisi sulit. Bahkan, kondisi sulit yang ada saat ini dianggap sebagai sebuah sesuatu yang lumrah terjadi.

Bagi Yamaha setiap kondisi yang terjadi terus menjadi bahan evaluasi untuk melahirkan strategi jitu dalam menjalani roda bisnis.

googletag.defineOutOfPageSlot('/4905536/detik_desktop/oto/parallax_detail', 'div-gpt-ad-1558277787290-0').addService(googletag.pubads());
“Kondisi yang terjadi tentunya sebuah pelajaran yang berharga. Langkah apa yang harus kami lakukan, jika kondisi seperti itu terjadi. Ibaratnya, kami ditempa untuk lebih tangguh dalam menghafapi berbagai kondisi,” papar Executive Vice President PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing Dyonisus Beti kepada detikOto saat ditemui di kantornya.

Selain telah terbiasa menghadapi berbagai kondisi, Dyon juga menilai meski terbilang kurang bagus dibanding tiga atau dua tahun yang lalu, namun kondisi saat ini tidaklah separah ketika terjadi krisis ekonomi 1997/1998, atau pada 2008.

“Kondisi dasarnya berbeda, meski ada keterkaitan dengan kondisi global,” ucap pria kelahiran Jambi, 13 Oktober 1962 itu.

Lantas, apa saja yang dilakukan Yamaha Indonesia menghadapi situasi sulit yang terjadi saat ini? Apa langkah antisipasi jangka panjang? Bagaimana taktik menghadapi persaingan di pasar kendaraan roda dua yang semakin ketat? Dan yang diharapkan dari pemerintah untuk bisa berkontribusi terhadap perekonomian nasional? Berikut wawancara selengkapnya :

Bagaimana Anda melihat pasar sepeda motor di Tanah Air hingga saat ini ?

Ya, harus saya katakan dengan jujur, kondisinya tidak lebih bagus dari tahun lalu. Penurunan atau melemahnya pasar, saat ini sedang terjadi. Bahkan, kami mempunyai data, yang menunjukan bahwa secara ritel penurunan penjualan mencapai sekitar 25 persen lebih.

Sementara, untuk wholesales, orang juga mempunyai data dan menyebut telah terjadi penurunan sekitar 19 persen lebih. Artinya secara retail penurunan lebih parah. Kondisi selama Januari hingga April lalu itu, memang tidak menggembirakan.

Menurut Anda, apa yang menjadi penyebab semua itu?

Kata kuncinya adalah menurunnya daya beli. Harus diakui, kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang terjadi pada November tahun lalu telah memiliki dampak ikutan atau multiplier effect yang besar.

Dampak itu mulai terjadi pada naiknya tarif angkutan, kemudian harga barang-barang terutama kebutuhan pangan pokok juga naik. Meski pun harga BBM kemudian turun, ternyata laju kenaikan harga bahan pangan dan barang-barang lainnya terus naik.

Apalagi kemudian ada sejumlah kondisi yang menyebabkan menurunnya daya beli. Harga beras juga mengalami kenaikan, sehingga alokasi anggaran rumah tangga untuk membeli bahan pangan ini juga meningkat.

Pada saat yang sama, tarif listrik meningkat. Sementara, harga gas 12 kilogram juga naik, dan memicu orang—yang sejatinya tidak masuk dalam kategori berhak mendapat subsidi—untuk membeli gas bersubsidi tiga kiloan. Akibatnya gas bersubsidi harga eceran juga naik.

Sementara para nelayan yang juga menjadi konsumen potensial motor, pendapatannya juga menurun akibat larangan menangkap ikan dengan pukat harimau. Sedangkan kalau pun bisa menangkap dan dapat ikan, mereka masih kesulitan untuk menyimpannya karena cold storage tidak ada.

Karena harus menjual saat itu juga – karena kalau tidak ikan hasil tangkapan membusuk – maka harganya jatuh. Jadi, tingkat pendapatan tidak seperti dulu.

Kami juga mempunyai data, harga komoditas yang dihasilkan petani di Sumatera seperti karet, minyak sawit atau CPO (Crude Palm Oil) juga turun. Sehingga, pendapatan petani menurun.

Semua itu berdampak pada penurunan daya beli. Orang lebih mementingkan perut ketimbang kebutuhan beli motor kan? Menyikapi fakta ini apa yang Anda lakukan?

Memang sulit. Namun harus jujur kami akui, kami merevisi target penjualan, dan mengatur dengan cermat pasokan yang ada. Perlu Anda ketahui, karena penurunan penjualan itu maka stok atau jumlah model yang tak terserap di diler juga bertambah. Secara kumulatif dalam empat bulan pertama terjadi penumpukan stok sampai 11 ribu unit.

Pertambahan stok kami itu terbilang masih cukup kecil jika dibanding teman-teman mereka lain. Maaf tidak bisa saya sebut nama merek, ada yang stok bertambah hingga menjadi 80 ribu unit.

Oleh karena itu, kami melakukan penyesauain produksi. Jumalh produksi kami sesuai dengan melihat pergerakan penyerapan. Memang ini harus cermat, karena proses produksi harus tetap berjalan, pada sisi lain kami juga harus berhitung dengan efektifitas dan efisiensi biaya.

Kami juga melakukan efisiensi terhadap semua kegiatan. Sehingga kami tetap bisa kompetitif.

Anda menyebut melakukan efisiensi dalam semua kegiatan. Bisa Anda jelaskan?

Ya. Ini tentunya pada kegiatan yang dinilai bisa dilakukan penghematan. Misalnya karena penyesuaian produksi maka kegiatan produksi pada hari libur seperti Minggu tidak dilakukan.

Kegiatan lain yang sekiranya bisa dihemat juga kami lakukan. Begitu pun dengan pemakaian sumber energi yang ongkosnya lumayan besar, tetapi dirasa tidak perlu menggunakan tambahan energi ya kita sesuaikan.

Apakah efisiensi itu juga menyentuh ke sumberdaya manusia?

Ohh, ini perlu saya tegaskan bahwa perusahaan Jepang itu tidak pernah melakukan pemangkasan karyawan. Harus diingat, terhadap karyawan. Sampai hari ini juga tidak ada pemikiran melakukan pengurangan karyawan, termasuk pekerja yang kontrak.

Namun sampai selesai lebaran nanti akan kita evaluasi. Apakah, permintaan produk (di pasar) masih menurun? Ya kalau menurun nanti yang sudah selesai kontraknya tidak kita panggil lagi. Ya mudah-mudahan permintaan kembali naik, sehingga itu tidak terjadi.

Menurut perhitungan Anda seperti apa prospek pasar untuk kembali normal?

Sebagai seorang pelaku bisnis, tentu harus optimistis. Kondisi yang ada selalu menjadi celah bagi peluang. Kami melihat tanda-tanda pasar kembali normal atau rebound sudah menunjukan tanda-tanda pada bulan Mei ini.

Meski seberapa besar harus kita lagi, tetapi yang terpenting adalah bagaimana pergerakan positif itu ada.. Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, kondisi akan kembali normal setelah enam bulan.

Sentimen positif yang bakal memicu kondisi pasar kembali naik saat ini adalah momen lebaran. Umumnya pada saat bulan seperti itu permintaan meningkat sebagai persiapan lebaran.

Pada saat yang sama anggaran pemerintah dan swasta juga turun. Sehingga, roda perekonomian mulai bergerak, dan ekonomi masyarakat juga menggeliat, akibatnya pendapatan juga terjadi.

Tapi itu kan secara alamiah. Untuk terobosan sebagai langkah antisipasi jangka panjang?

Meningkatkan ekspor. Itu strategi jangka panjang, karena dengan ekspor berarti kita telah menciptakan wilayah pasar baru dan peluangnya sangat besar. Selama empat bulan pertama yakni dari Januari sampai April, ekspor kami meningkat hingga 400 persen. Totalnya mencapai 36 ribu unit yang kami ekspor dalam rentang waktu itu.

Negara tujuan, selain wilayah Asia Tenggara juga Eropa. Dan kami terus berusaha menembus pasar ekspor baru, tentunya dengan model-model baru yang belum ada di pasaran itu maupun belum dibuat Yamaha di negara lain.

Kedua, keunggulan teknologi dan kualitas produk yang kami buat juga diakui oleh konsumen di dunia. Terbukti standar produk kami sudah memenuhi standar Euro3.

Nah, soal ekspor ini yang menginisiasi dan menentukan Yamaha Indonesia atau Yamaha Jepang selaku prinsipal?

Bisa saya katakan dua-duanya. Mengapa demikian? Mencari dan melakukan lobi ke negara-negara tujuan ekspor bukanlah perkara mudah. Selain pendekatan secara bisnis, tentu nama brand secara global memainkan peran penting.

Soalnya, mengekspor bukanlah sekadar menjual produk dan kemudian selesai. Namun, dibutuhkan layanan purna jual dan jaringan dengan jaminan keberlanjutan atau sustainability yang tinggi.

Tentu, untuk memberikan jaminan itu peran prinsipal selaku pemilik brand diperlukan. Disitulah peran bagaimana melobi dan meyakinkan diperlukan.

Tetapi pada sisi lain pendekatan Yamaha Indonesia juga tidak kalah penting. Karena kita juga menunjukan kualitas produk kita, ikut dalam berbagai kegiatan atau event internasional.

Dan satu hal lagi, dalam membuat produk kualitas kita juga harus diakui. Itu semua kita buktikan, sehingga secara tidak langsung akan menjadi kimunikasi. Kemudian juga baik secara langsung atau tidak langsung kita berarti telah melakukan pendekatan ke negara-negara lain.

Yamaha Indonesia sudah lebih dari 40 tahun hadir di Indonesia. Namun fakta juga menunjukkan penjualan masih di urutan nomor dua. Padahal brand maupun kualitas tidak kalah. Lantas apa yang terjadi?

Kalau itu kami harus katakan, bahwa jaringan memang memiliki peran penting. Tidak seperti brand lain yang juga memiliki lembaga leasing dalam grup besar mereka. Kami tidak memiliki secara terintegrasi.

Kami juga selalu berpegang pada aturan dari pemerintah bahwa uang muka harus sesuai aturan yang ditetapkan. Jaringan penjualan kami tidak ingin uang muka hanya Rp 500 ribu atau bahkan kurang. Karena pada akhirnya justru memberatkan konsumen dan membawa masalah pada mereka sendiri.

Yang ketiga, tentunya pada kekuatan diler dan showroom. Untuk membangun diler tentunya juga butuh investasi yang lumayan besar. Kekuatan finansial mereka juga harus besar. Jujur kami akui, masih banyak diler yang belum memiliki kekuatan besar.

Tapi apakah pasar sepeda motor di Indonesia saat sudah pada puncak atau peak dalam sebuah mekanisme keseimbangan pasar?

Rasanya kok belum ya. Kalau kita melihat rasio kepemilikan motor secara nasional dalam sebuah keluarga masih jauh dari ideal. Kalau kondisi sekarang, itu karena faktor ekonomi biasa saja. Saya yakin suatu saat nanti bakal tumbuh lagi seperti semula.

Lantas apa yang Anda harapkan dari pemerintah?

Kami tidak muluk-muluk. Yang penting pemerintah tidak membuat kebijakan yang kontraproduktif bagi pasar dan industri saja. Seperti kebijakan uang muka minimal, dan sebagainya yang menjadikan daya beli masyarakat menurun.

Sebagai seorang executive vice president Yamaha Indonesia, apa target Anda untuk bisa memenangi persaingan di setiap lini segmen?

Tentunya membuat produk seperti yang diharapkan oleh konsumen. Produk itu berteknologi tinggi, antara lain cepat, tangguh, irit bahan bakar tetapi berharga murah. Memang, sosok produk seperti itu dulunya bisa dibilang tak mungkin. Tapi sekarang menjadi kenyataan.

Yamaha telah membuktikannya dengan filosofi produk berteknologi Blue Core. Dan itu akan kami terus kembangkan dengan inovasi dari para engineer kita. Saya yakin, mereka sangat kreatif dan inovatif. Dengan dukungan Yamaha pusat kami akan bisa mewujudkannya.

Bukanlah itu berarti investasi besar juga harus digelontorkan. Jika investasi dilakukan terus bagaimana dengan harga, bukankah ikut terkerek?

Begini. Cara berpikir kita harus melihat jangka panjang. Investasi itu bersifat jangka panjang dengan logikanya sendiri. Pada suatu saat nanti, secara ekonomi investasi akan kembali. Kami pun berpikir seperti itu. Jadi tidak harus sekarang dengan serta merta harga naik.

Harus diingat juga bahwa investasi ini juga sebagai bagian dari wujud startegi untuk memernangi persaingan.

Kabarnya Anda juga mau menggarap serius pasar moge? Apakah karena memang potensinya sangat besar.

Ha ha ha ha… ini sebenarnya untuk image saja. Bagaimana pun pasar moge tidak sebesar pasar produk massal. Tetapi juga ingin kami sampaikan kepada konsumen bahwa kami juga mempunyai moge dengan teknologi dan fitur yang tidak kalah.

Pada akhirnya, muara dari itu semua adalah citra merek. Dan itu sah-sah saja dilakukan oleh siapapun unjuk keunggulan produk yang dimiliki juga termasuk bagian dari promosi.




(arf/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com