Ini Perbedaan Radio Komunikasi di MotoGP dan F1

Ini Perbedaan Radio Komunikasi di MotoGP dan F1

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Kamis, 10 Sep 2026 18:18 WIB
BRNO, CZECH REPUBLIC - JUNE 20: Jorge Martin of Spain riding the Aprilia Racing bike (89) congratulates Marc Marquez of Spain riding the Lenovo Ducati (93) on finishing third during the Tissot Sprint ahead of the MotoGP of  Czechia at Brno Circuit on
Perbedaan alat komunikasi MotoGP dan F1. Foto: Getty Images/Gold & Goose Photography
Jakarta -

Mulai musim depan, pebalap MotoGP akan menggunakan radio komunikasi. Meski terdengar sama, namun fungsi dan cara kerjanya berbeda dengan yang dipakai Formula 1 atau F1.

Senior Director of Media Production Technology MotoGP, Sergi Sendra, menjelaskan salah satu perbedaan utamanya terletak pada koneksi audio. Di F1, komunikasi dengan pebalap akan langsung terputus ketika pebalap keluar dari mobil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara di MotoGP, pebalap nantinya tetap bisa mendengar dan berbicara meski sudah tak berada di motornya.

"Pebalap akan bisa mendengar dan berbicara di mana pun mereka berada. Itu akan menjadi perubahan besar dan juga menarik dari perspektif strategi," ujar Sendra, dikutip dari Speedweek, Kamis (10/9).

ADVERTISEMENT
Mercedes' George Russell during the Sprint Race ahead of the 2026 Canadian Grand Prix which will take place on Sunday. Picture date: Saturday May 23, 2026. (Photo by Bradley Collyer/PA Images via Getty Images)Radio komunikasi F1. Foto: PA Images via Getty Images/Bradley Collyer - PA Images

Namun, sistem tersebut membuat pebalap harus membawa perangkat tambahan dengan bobot maksimal sekitar 200 gram yang ditempatkan pada helm dan baju balap.

Perbedaan lainnya ada pada penggunaan mikrofon. Pebalap MotoGP nantinya akan menggunakan dua mikrofon, satu di dalam helm dan satu lagi di bagian baju balap.

F1 memiliki cara yang lebih sederhana untuk menjaga posisi mikrofon tetap dekat dengan mulut. Pebalap menggunakan balaclava atau penutup kepala yang membantu menahan mikrofon di tempatnya.

Cara tersebut sulit diterapkan di MotoGP. Sebab, menurut Sendra, penggunaan balaclava tak ideal untuk pebalap motor. Ia bahkan pernah melihat seorang pebalap muntah-muntah saat mengenakannya di lintasan.

Selain itu, tantangan terbesar MotoGP juga datang dari angin. Mikrofon di baju balap akan dinonaktifkan ketika helm sudah dipasang. Pasalnya, jarak antara kedua mikrofon dapat menimbulkan masalah pada kualitas suara.

"Angin di dalam helm pebalap sangat brutal," tuturnya.

Sprint Race MotoGP Aragon 2026Radio komunikasi pebalap MotoGP. Foto: Dok. motogp.com

MotoGP pun sudah melakukan pengujian, salah satunya bersama Fabio Quartararo. Hasilnya, kualitas suara memang belum sempurna, tetapi masih bisa dipahami.

"Ini tantangan yang menarik untuk terus kami kembangkan," kata Sendra.

Bukan hanya itu, secara fungsi, keduanya juga berbeda. Jika radio komunikasi di F1 memungkinkan pebalap berkomunikasi untuk mengatur strategi bersama tim, di MotoGP lebih sederhana, yakni agar pebalap terhubung dengan Race Direction dalam kondisi tertentu.

Dengan begitu, meski sama-sama menggunakan radio komunikasi, kebutuhan F1 dan MotoGP cukup berbeda. F1 lebih dulu memiliki sistem komunikasi yang terintegrasi dengan mobil dan helm, sedangkan MotoGP harus menghadapi tantangan tambahan seperti angin, posisi mikrofon, hingga bobot perangkat.

Teknologi tersebut masih terus dikembangkan sebelum mulai digunakan secara resmi dalam balapan MotoGP pada 2027.



(sfn/dry)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads