Mau Dipakai 2027, Radio Komunikasi MotoGP Dikomplain Pebalap

Mau Dipakai 2027, Radio Komunikasi MotoGP Dikomplain Pebalap

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Rabu, 09 Sep 2026 16:07 WIB
BRNO, CZECH REPUBLIC - JUNE 20: Jorge Martin of Spain riding the Aprilia Racing bike (89) congratulates Marc Marquez of Spain riding the Lenovo Ducati (93) on finishing third during the Tissot Sprint ahead of the MotoGP of  Czechia at Brno Circuit on
Radio komunikasi MotoGP. Foto: Getty Images/Gold & Goose Photography
Jakarta -

MotoGP sedang menyiapkan sistem radio komunikasi untuk para pebalap yang ditargetkan mulai digunakan pada musim 2027. Namun, teknologi baru ini belum sepenuhnya mendapat sambutan positif dari para pebalap.

Salah satu yang mengeluhkan sistem tersebut adalah pebalap Red Bull KTM, Brad Binder. Saat menjalani pengujian di MotoGP Aragon, Binder menilai suara yang dihasilkan radio terlalu bising.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Suaranya sangat bising. Saat semua motor meraung hingga batas putaran mesin di grid start, suasananya begitu intens. Itulah sebabnya Anda merasa terbantu dengan adanya penyumbat telinga," ujar Binder, dikutip dari Speedweek, Rabu (9/9).

Brad Binder di MotoGP Austria 2025Radio komunikasi pebalap MotoGP. Foto: dok. KTM

Pebalap penguji KTM, Pol Espargaro paham mengapa sejumlah pebalap menolak radio komunikasi. Sebab, ketika di lintasan, mereka butuh konsentrasi. Meski demikian dia tetap mendukung pengembangan teknologi tersebut.

ADVERTISEMENT

"Tidak selalu mudah mengembangkan sesuatu bersama para pebalap yang sepenuhnya fokus pada balapan dan semuanya berkata: 'Saya tidak ingin ada hal baru, saya tidak ingin mencoba apa pun.' Saya berkata kepada Sergi: teruslah maju," kata Espargaro.

Suara yang dihasilkan motor MotoGP sejatinya sangat keras. Tingkat kebisingannya mendekati batas 130 desibel yang ditetapkan FIM. Para pebalap selama ini mengandalkan earplug untuk melindungi pendengaran mereka.

Meski begitu, MotoGP tetap mengembangkan sistem tersebut. Senior Director of Media Production Technology MotoGP Group, Sergi Sendra, mengatakan radio ini sejak awal dirancang terutama untuk alasan keselamatan.

Salah satu contohnya adalah ketika terjadi red flag. Informasi tersebut harus bisa diterima seluruh pebalap secara bersamaan dan tanpa jeda, di mana pun posisi mereka berada di lintasan.

Karena kebutuhan tersebut, MotoGP tak bisa menggunakan radio biasa. Sistem yang dikembangkan menggunakan transmisi audio digital berbasis IP agar pesan dapat dikirim secara cepat dan serentak.

"Tahap awal melibatkan pebalap dan sistem komunikasi independen. Kemudian muncul tantangannya: bagaimana cara memasang mikrofon dan earplug tanpa mengganggu homologasi helm? Itu adalah kendala besar, karena FIM memiliki standar keselamatan baru," kata dia.

ALCANIZ, SPAIN - AUGUST 29: Marc Marquez of Spain riding the Lenovo Ducati (93) on track during the Tissot Sprint Race at Motorland Aragon Circuit on August 29, 2026 in Alcaniz, Spain. (Photo by Gold & Goose Photography/Getty Images)Radio komunikasi pebalap MotoGP. Foto: Gold & Goose Photography/Getty Images

Pengembangannya sendiri bukan perkara mudah. MotoGP harus mencari cara memasukkan mikrofon dan perangkat audio ke perlengkapan pebalap tanpa mengganggu homologasi helm serta standar keselamatan FIM.

MotoGP bahkan sudah mencoba berbagai teknologi, mulai dari perangkat in-ear, speaker hingga bone conduction. Beberapa solusi akhirnya ditinggalkan karena dianggap tidak nyaman atau menimbulkan masalah saat digunakan di lintasan.

Solusi yang saat ini dikembangkan menggunakan material yang lebih lembut dan terintegrasi dengan sistem audio. Perangkat komunikasi juga ditempatkan di bagian 'hump' pada baju balap.

Sistem tersebut nantinya harus mampu menangani 22 pebalap dengan 22 preferensi berbeda. Selain itu, 11 tim MotoGP juga perlu memperbarui perangkat komunikasi mereka agar bisa terhubung dengan sistem baru.

Pengujian sistem radio ini tidak hanya dilakukan bersama pebalap reguler. Test rider seperti Dani Pedrosa, Michele Pirro, Aleix Espargaro, Pol Espargaro, dan Lorenzo Savadori juga ikut membantu proses pengembangannya melalui sejumlah private test.



(sfn/rgr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads