Motor listrik nasional makin terasa spesial, sebab bakal diberikan berbagai kemudahan kepemilikan, mulai dari down payment (DP) nol persen hingga cicilan bunga rendah. Bagaimana tanggapan lembaga pembiayaan terkait hal ini?
Menurut CEO Danantara, Rosan Roeslani besaran uang muka atau DP kredit motor listrik dari perbankan saat ini masih berada di kisaran 10% dari harga kendaraan. Dia menilai angka tersebut masih menjadi salah satu pertimbangan masyarakat sebelum membeli motor listrik.
Atas dasar itu, dia berujar, Danantara kemudian berinisiatif untuk memangkas besaran DP tersebut. Bahkan, ia menyebut Danantara siap menghapuskannya sama sekali menjadi 0% jika memang memungkinkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"DP-nya yang selama ini masih ada, kalau menurut informasi dari perbankan kami itu ada 10%, kita akan coba reduce bahkan akan kita coba hilangkan (DP 0%)," tegas Rosan.
Selain memangkas besaran DP, Rosan mengaku sudah menyiapkan inisiatif berupa penyesuaian suku bunga yang lebih rendah dan tenor pinjaman lebih panjang agar cicilan motor listrik menjadi semakin terjangkau bagi masyarakat luas.
"Sehingga minat masyarakat untuk membeli motor listrik ini bisa berjalan dengan cepat, dengan baik dan kita mempunyai kemampuan untuk mengakselerasi produksi dari motor listrik nasional yang ada di Indonesia ini," imbuhnya.
Merespons rencana ini, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan sasaran program harus ditentukan lebih dulu sebelum skema pembiayaan diterapkan.
"Tentu buat kami perusahaan pembiayaan kan harus mengedepankan yang namanya asas prudensi, kehati-hatian, tata kelola yang benar dalam menyetujui kredit, bukan?" kata Suwandi kepada CNBC Indonesia.
Pemerintah dan pelaku usaha juga perlu menentukan apakah fasilitas tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat atau hanya ditujukan kepada kelompok tertentu. Penentuan target dapat memengaruhi tingkat risiko serta bentuk dukungan yang diperlukan.
"Siapa target pasarnya? Siapa yang akan menjadi calon debiturnya? Apakah ini dibuka untuk masyarakat? Apakah ini spesifik untuk profesi-profesi tertentu? Nah itu pasti harus duduk dulu," ujarnya.
Kemampuan masyarakat untuk membayar cicilan tetap menjadi faktor penting dalam mendorong penjualan motor listrik. Harga yang lebih murah di awal belum tentu membuat pembelian menjadi ringan apabila cicilan bulanannya tidak sesuai dengan kemampuan konsumen.
"Dan kemampuan juga harus, keinginan harus disesuaikan kemampuan. Nggak mampu nyicil ya repot kan?" ujarnya.
Supaya merangsang minat beli secara masif, dibutuhkan skema program yang komprehensif. Skenario tersebut wajib menjembatani kepentingan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, produsen, jaringan diler, perusahaan pembiayaan (leasing), hingga masyarakat selaku konsumen akhir.
Langkah ini penting agar stimulus yang dihadirkan tidak sebatas tawaran uang muka (DP) murah semata, melainkan benar-benar mampu mendorong masyarakat beralih dari motor konvensional ke kendaraan listrik.
"Programnya harus pas untuk masyarakatnya, calon pembelinya juga supaya merasa 'ini menarik nih', jadi orang berbondong-bondong pada tukar atau beli. Nah, mencari formula yang pas dan tepat itu kan perlu berbagai eksperimen dan percobaan," ucap Suwandi.










































