Usulan Motor Listrik BGN buat Guru Honorer, Jangan Sampai Jadi Beban

Usulan Motor Listrik BGN buat Guru Honorer, Jangan Sampai Jadi Beban

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 26 Jun 2026 08:26 WIB
Ribuan kendaraan listrik yang diduga untuk operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) terparkir di salah satu pabrik kawasan Citereup, Kabupaten Bogor, Kamis (16/4/2026).
Motor listrik MBG. Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto
Jakarta -

Motor listrik Badan Gizi Nasional (BGN) yang awalnya untuk program makan bergizi gratis diusulkan untuk jadi motor operasional guru honorer. Sebab, motor listrik yang pengadaannya ternyata di-markup itu dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan pengelola SPPG.

Seperti diberitakan Antara, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menyampaikan dukungan terhadap rencana BGN menghibahkan sepeda motor listrik yang sebelumnya dibeli untuk operasional satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) kepada guru honorer. Yahya menyebut, langkah penggunaan motor listrik BGN oleh guru honorer itu menjadi solusi tepat agar aset yang telah dibeli menggunakan anggaran negara tetap bermanfaat bagi masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu rapat dengan Komisi IX, Ibu Arumsari (Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari) mengatakan sepeda motor listrik tersebut akan dihibahkan kepada guru-guru honorer di daerah-daerah dan saya setuju dengan rencana tersebut," katanya dalam keterangan tertulis baru-baru ini. Legislator bidang jaminan sosial itu mengatakan kendaraan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan para pengelola dapur.

ADVERTISEMENT

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani, yang mengurusi sektor pendidikan, menyambut baik rencana penghibahan motor listrik BGN kepada guru honorer. Namun, ada catatannya, jangan sampai rencana penghibahan motor listrik ke guru honorer menjadi beban baru.

"Yang terpenting adalah jangan sampai persoalan tersebut menimbulkan beban baru bagi guru-guru honorer kita. Itu saja," katanya.

Aspek administrasi dari motor listrik itu harus dipastikan clear. Motor listrik yang pengadaannya ternyata dikorupsi tersebut harus dipastikan tidak memiliki kaitan hukum jika dialihkan ke guru honorer. Begitu juga soal perawatan kendaraan, yang sejauh ini merek motor tersebut belum banyak pusat servisnya.

"Pastikan terlebih dahulu hal ini tidak bermasalah, baik motornya kemudian setelah digunakan tadi, apakah memang betul motor tersebut seperti service center (pusat servis)-nya ada dan sebagainya," kata dia.

Menurutnya, rencana penghibahan motor listrik BGN buat guru honorer merupakan ide yang cerdas. Ini bisa menjadi bentuk pengharagaan kepada guru honorer.

"Pastikan motor tersebut bisa digunakan, itu yang penting, karena informasi yang beredar hari ini juga ada yang mengatakan motor itu dalam proses perakitan beberapanya. Tetapi lagi-lagi kami ingatkan, silakan saja asal tidak melanggar aturan atau regulasi," ucapnya.



(rgr/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads