ADVERTISEMENT
Senin, 13 Mei 2019 20:22 WIB

Bangun Ekosistem Mobil Listrik, Toyota Gandeng Panasonic untuk Baterai

Ruly Kurniawan - detikOto
Logo Toyota Foto: Reuters/Mario Anzuoni Logo Toyota Foto: Reuters/Mario Anzuoni
Jakarta - Toyota Indonesia nampak sedang berusaha menghidupkan ekosistem mobil rendah emisi atau biasa dikenal dengan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Hal itu dapat terlihat dari deretan mobil hybrid yang ditawarkan hingga saat ini, mulai dari Alphard, Camry, Prius, hingga yang paling baru adalah C-HR.

Namun produsen roda empat terbesar di tanah air ini mengaku bahwa permasalahan baterai dan pengelolaannya masih harus diperhatikan. Khususnya tentang limbah baterai mobil listrik.



"Jadi kita masih berkerja sama dengan Panasonic untuk teknologi baterai, itu adalah salah satu mitra Toyota. Jadi, salah satu tulang punggung pemasok baterai untuk Toyota datang dari Panasonic," ungkap Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmy di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menggandeng Panasonic merupakan salah satu langkah strategis Toyota untuk mengakali baterai di mobil listrik. Sehingga, harga dan perawatan baterai sangat terjaga.

"Tentang baterai itu sendiri, kami saat ini masih mengedukasi seperti baterai gampang rusak, atau misalkan di cuaca panas bagaimana ketahanannya. Kami beri tahu kepada mereka, sekarang baterai itu kuat. Bahkan sudah ada yang dipakai 10 tahun tidak masalah," kata Anton.



"Kedua, kekhawatiran biaya perawatannya terlalu tinggi. Sebenarnya, tidak terlalu jauh perbandingannya dengan mobil konvensional. Kemudian tentang garansi. Untuk hybrid, kami beri lima tahun. Jadi, tidak khawatir bila 1-4 tahun baterainya tak bertahan, kami bisa tukar dengan baterai yang baru," ucap dia lagi.

Terlebih, lanjut Anton, baterai yang digunakan adalah dari Panasonic yang memang sudah terkenal kecakapannya di bidang teknologi serupa. Jadi, langkah itulah yang diambil oleh Toyota guna membangun ekosistem kendaraan rendah emisi paling tidak sampai saat ini.

"Untuk kami, saat ini yang paling cepat (pengembangannya) adalah hybrid. Tapi, di masa depan bisa saja battery electric vehicle masuk ke Indonesia, kalau memang sudah siap," tuturnya. (ruk/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com