ADVERTISEMENT
Rabu, 01 Jul 2015 13:07 WIB

Nissan GT Academy

Jadi Finalis Tertua GT Academy, Nofly Tak Nyerah

Arif Arianto - detikOto
Sentul - Usia Teuku Nofly tidaklah bisa dibilang muda lagi dibanding finalis Gran Turismo (GT) Academy yang digelar di Indonesia saat ini. Meski begitu, pria kelahiran Jakarta, 41 tahun lalu itu mengaku tak pernah mengenal istilah menyerah untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pebalap profesional.

“Saya menyadari sepenuhnya, dibanding teman-teman finalis lainnya sayalah yang tertua. Bahkan di saat babak penyisihan saat mengetahui rata-rata peserta berumur 18 – 22 tahun, saya sempat keder mau mundur saja. Tapi, sesaat kemudian saya tersadar tak ada istilah terlambat karena usia untuk mewujudkan impian, sebuah kemenangan,” paparnya di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Bagi wiraswastawan di bidang teknologi informasi itu, langkahnya untuk terus berlaga habis-habisan di ajang bergengsi ini bukanlah semata-mata mengejar ambisi. Namun, lebih dari itu ingin memberikan sumbangan pembelajaran kepada masyarakat atau siapa pun dalam mengejar cita-cita.

“Jangan pernah menyerah untuk terus berkreasi dan berprestasi. Belajar dan berkarya itu tidak mengenal usia. Lakukan terus sesuatu selagi kita bisa. Jika semua orang Indonesia memiliki semangat seperti itu maka Indonesia akan maju, semangat untuk mencapai seuatu yang baru akan terus ada,” tutur jebolan salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta ini.

Dengan prinsip seperti itu pula, Nofly mengaku tak terlalu optimistis bakal memenangi kompetisi ini. Meski begitu, dirinya akan terus berusaha semaksimal mungkin menggapai kemenangan.

“Kan terbukti, awalnya saya sudah sempat ngeper saat mengetahui ternyata banyak teman-teman usia muda. Eh, ternyata dari 15.000 orang lebih peserta, saya mampu menjadi salah satu dari 20 orang terbaik,” ucapnya.

Memang, pria yang mengemari game dan musik itu, telah benar-benar menjadi seorang gamer pada 2000 lalu. Namun kegiatan bermain game racing, sempat terhenti beberapa saat di pada 2011.

Bahkan meski sempat kembali berlanjut, pada 2014 lalu juga kembali berhenti, dengan alasan kegiatan bisnisnya perlu mendapatkan perhatian serius. “Jadi sekarang agak sedikit kagok,” kata dia.

Kini, berlaga dengan finalis lain yang usianya terpaut jauh dengannya, Nofil merasa ada tantangan dan pengalaman baru. Baginya, dengan berlaga dan bergaul dengan mereka, tak hanya pertemanan yang bertambah luas, tetapi juga pengetahuan.

“Ingat, ini bagian dari pembelajaran, baik soal hidup dan kehidupan, ilmu, pengetahuan, serta pengalaman. Semuanya adalah sesuatu yang sangat berharga dalam sebuah kehidupan, Kalau pun nanti kalah bukan persoalan besar,” imbuhnya.

Sementara itu, GM Strategi Pemasaran dan Perencanaan Produk PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Budi Nur Mukmin menyebut, dalam kompetisi ini penyelenggara tak memberi batasan usia maksimal. Hal itu juga berlaku di negara-negara lain di dunia yang juga menyelenggarakan GT Acadenmy.

“Batasan hanya usia minimal 18 tahun. Mengapa 18 tahun karena mereka harus meemiliki SIM A. Dan SIM itu metupakan syarat mutlak karena kita ingin memberikan contoh dan pembeljaran tentang berkendara dan berlalu lintas secara baik dan benar,” paparnya.

Soal tak dibatasinya usia maksimal, karena GT Acadeny ingin menjaring calon-calon pebalap profesional Nissan dari berbagai latar belakang dan kalangan. Termasuk dalam hal usia. Sebab, potensi seseorang tidak mengenal batasan latar belakang tertentu.

(arf/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com