ADVERTISEMENT
Sabtu, 30 Mei 2015 17:03 WIB

'Jangan Mimpi Bikin Mobil Nasional'

Aditya Maulana - detikOto
Bekasi -

Mobil nasional (mobnas) masih menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat Indonesia. Ada sejumlah pihak yang tertarik dan optimis untuk membuat mobil nasional. Apakah Indonesia di masa yang akan datang bakal punya mobnas?

"Jangan mimpi bikin mobil nasional (mobnas)," sindir Komisaris PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) Subronto Laras saat menjawab pertanyaan detikOto mengenai mobnas usai acara peresmian pabrik baru Suzuki di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Subronto Laras bukan asal bicara, sebab menurutnya selama bergelut di industri otomotif nasional selama 40 tahun ia masih juga belum sanggup untuk mewujudkan mobnas. Faktor utama adalah, mengenai Sumber Daya Manusia (SDM) dan tidak adanya teknologi.

googletag.defineOutOfPageSlot('/4905536/detik_desktop/oto/parallax_detail', 'div-gpt-ad-1558277787290-0').addService(googletag.pubads());
"Saya saja sudah 40 tahun di industri otomotif nasional mimpi punya mobnas tidak jadi-jadi sampai sekarang," tegasnya.

Menurutnya, Indonesia tidak memiliki teknologi yang mumpuni untuk membuat mobil nasional. Meski sekarang ini bisa transfer teknologi seperti yang dilakukan pabrikan otomotif besar lainnya, tapi akan terkendala masalah biaya.

"Kalau transfer teknologi kan harus beli, nah sanggup tidak beli teknologinya itu. Mahal sekali kalau beli teknologi seperti itu," katanya sambil tersenyum.

Sekarang ini menurut Subronto harus bisa melihat kenyataan jangan kebanyakan bermimpi. Kecuali Indonesia punya teknologinya baru mobnas atau mobil-mobil lainnya akan terwujud.

"Kita realistis saja, kecuali kita punya teknologi, nah kita rebut teknologi itu untuk membuat mobil nasional," lugasnya.

Sebelumnya, Subronto juga pernah bercerita jika ia pernah menggandeng Mazda dalam pembuatan Mobil Rakyat 90 (MR90). Mobil tersebut direncanakan akan dibuat lebih bagus daripada mobil minibus yang sudah ada.

"Kami bikin waktu itu namanya Mobil Rakyat 90, MR 90. Nah MR 90 target kita adalah dia akan lebih bagus dari minibus kami, ya kan ada Suzuki Carry, ada Toyota Kijang," sebutnya.

Mobil itu pun bisa dianggap sebagai mobnas oleh Pemerintah Indonesia selama diproduksi di Indonesia. Sayangnya, rencana itu pun harus berhenti di tengah jalan karena mobil itu dikenakan pajak yang cukup tinggi dibandingkan mobil yang sudah ada.

"Jadi waktu kami ajukan ini kepada pemerintah, pemerintah bilang sepanjang itu dibuat di sini (Indonesia) kita akan declare itu jadi mobil nasional. Makanya namanya Mobil Rakyat 90. Jadilah itu mobilnya, nah begitu jadi kita dapat problem. Problemnya waktu kita pasarkan, kita kena PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) 30 persen. Waktu itu Carry 0 persen, Kijang 0 persen. Itu menjadi akibat. Jadi kalau proses manufacturing-nya sama, tahu-tahu kita punya cost 30 persen lebih mahal," bebernya.

Subronto pun tidak menyerah untuk tetap membuat mobil nasional. Ia dengan parternya, Mazda sempat mengubah MR90 menjadi model station wagon yaitu VanTrend.

Hal itu dilakukannya untuk mendapatkan kriteria yang tepat agar memiliki pajak 0 persen. Lagi-lagi, usaha Subronto bersama Mazda itu tidak bertahan lama. Kementerian Keuangan pada waktu itu menganggap bahwa VanTrend merupakan bentuk sedan sehingga tetap dikenakan pajak.

"Kami coba mengubah lagi yang MR90 menjadi station wagon supaya mendapat kriteria yang namanya 4x2 dengan pajak 0 persen. Itu namanya VanTrend. Itu pun gagal, karena Menteri Keuangan waktu itu bilang ini sedan. VanTrend itu bentuknya sedan," ujarnya.

(ady/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com