ADVERTISEMENT
Selasa, 10 Feb 2015 12:29 WIB

Soal Mobnas Proton, Ini Saran Garansindo

Dadan Kuswaraharja - detikOto
Logo Proton di Kantor Pusat Proton (Luthfi) Logo Proton di Kantor Pusat Proton (Luthfi)
Jakarta - Jagat otomotif nasional dikagetkan dengan kerja sama PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL), dan Proton yang akan memproduksi mobil di Indonesia. Pemerintah menyebut proyek ini bukan proyek mobnas tetapi, jelas-jelas dalam MoU yang diteken kedua pihak merupakan MoU untuk pengembangan dan produksi mobil nasional Indonesia.

Lalu apa komentar para Agen Pemegang Merek (APM) pribumi di tanah air? Apakah mereka tidak berniat membuat sendiri kendaraan dengan merek lokal dan tidak melulu membawa merek dari luar?

Salah satu APM yang tergolong ‘pribumi' ini adalah PT Garansindo Inter Global, yang perusahaannya dimiliki oleh kalangan pribumi Indonesia.

googletag.defineOutOfPageSlot('/4905536/detik_desktop/oto/parallax_detail', 'div-gpt-ad-1558277787290-0').addService(googletag.pubads());
“Kami tidak mau berkomentar soal mobnas Proton ini,” ujar CEO Garansindo Muhammad Al Abdullah.

Namun dia tidak pelit memberikan saran kepada pemerintah. “Saat ini yang dibutuhkan solusi,” ujarnya.

Menurutnya, alangkah baiknya pemerintah justru membuka pintu untuk alih teknologi dari perusahaan otomotif lainnya yang sudah mapan di dunia. Apalagi dunia otomotif kini larinya ke arah mobil listrik atau kendaraan yang hemat BBM karena BBM memang bakal menjadi barang langka.

“Garansindo sendiri sudah melihatnya dengan menggaet Zero Motorcycles, motor listrik,” ujarnya.

Selain Zero, Garansindo juga sedang menggaet produsen motor roda dua lainnya yang sudah mapan di dunia otomotif. Namun mereknya apa, untuk saat ini dia tidak mau menyebutkannya.

Hal ini pun menurutnya sudah disampaikan kepada pihak Kementerian Perindustrian beberapa waktu lalu. “Kami sudah bertemu 2 bulan yang lalu, saya sowan kepada Menperin, saya katakan, kami sedang mempertimbangkan kendaraan listrik premium, yang dalam jangka panjang akan diproduksi di Indonesia,” ujarnya.

Untuk memproduksi kendaraan di Indonesia itu, APM harus bekerja sama dengan semua pihak termasuk kalangan akademisi, seperti Universitas Indonesia.

“Produksi dalam negeri ini, kami gandeng akademisi, supplier dari Indonesia, dan prinsipal merek roda dua yang sudah mapan. Apakah nanti mereknya lokal atau luar itu masalah nanti. Yang penting listrik, diproduksi dalam negeri oleh anak bangsa dan bisa tandem,” ujarnya.

Menurutnya, merek luar negeri yang memproduksi kendaraan listrik, seperti Tesla pasti mau diajak kerja sama untuk memproduksi di dalam negeri. “Bisa kan mereka, buka pintu untuk teknologi baru,” ujarnya.



(ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com