ADVERTISEMENT
Jumat, 09 Mei 2014 15:12 WIB

Ini Jurus Pabrikan Cegah Pemilik Mobil Murah Isi Premium

- detikOto
Jakarta - Pengguna mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC) yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebuah fenomena yang tidak bisa dihindari. Mobil LCGC sudah seharusnya menggunakan bensin beroktan 92.

Sales President Product Planning, After Sales, Dealer, Development and Customer Satisfaction PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Teddy Irawan menjelaskan mobil LCGC dibuat dengan teknologi irit bahan bakar dan tidak cocok menggunakan BBM bersubsidi.

"Mobil LCGC sekarang sesuainya dengn RON 91 dan 92. Tapi kalau konsumen isi RON 88 secara performa turun. Cuma sampai sekarang orang itu berbeda-beda. Balik lagi masing masing ke konsumen. Karena dia lebih mementingkan performa, ada juga konsumen asal jalan, kesadaran masih kurang," kata Teddy.

Karena itu lanjut Teddy produsen memberikan sanksi garansi hangus kepada para pengguna LCGC yang membeli BBM bersubsidi untuk kendaraanya. Selain itu dengan menggunakan BBM bersubsidi, konsumen harus menghadapi risiko daya tahan mesin berkurang.

Jurus tersebut dinilai jitu mengurangi pemakaian BBM bersubsidi. Namun kenyataan di lapangan berbeda. Pemilik LCGC masih kedapatan menggunakan BBM bersubsidi sehingga pemerintah memutar otak dengan akan mengeluarkan aturan baru yaitu memperkecil lubang tangki mobil LCGC.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat sudah memanggil pihak Pertamina dan produsen mobil di kantornya.

Hidayat melakukan rapat tertutup bersama Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, dan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman MR membahas rencana mengatur perangkat nozzle di SPBU dan lubang pengisian bensin di mobil murah.

Hidayat mengatakan pihak Pertamina ataupun Gaikindo sebagai produsen mobil siap melakukan aturan ini. Hanya saja membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk merealisasikannya di lapangan.

"Butuh waktu 3 bulan (untuk menjalankan), Bu Karen juga mau bertemu dengan Hiswana Migas juga, karena SPBU bukan semuanya punya Pertamina. Jadi pada prinsipnya oke semua," kata Hidayat ditemui di kantornya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (17/4/2014).

Dari sisi produsen, mobil yang akan atau yang sedang diproduksi, lubang pengisian bahan bakarnya akan dibuat lebih kecil dan disesuaikan dengan nozzle khusus BBM non subsidi di SPBU yang juga akan disesuaikan. Tujuannya ketika aturan ini berlaku, pengendara mobil murah tak bisa mengisi BBM subsidi di SPBU karena nozzle tak muat dengan lubang pengisian BBM.

"Pertamina juga ada beberapa nozzle-nya kecil. Sekarang sedang mau mapping dulu. Kami dari produsen kami siap untuk nozzle-nya dikecilkan mengikuti nozzle yang Pertamina," kata Sudirman.

Produsen mengaku modifikasi akan dilakukan untuk mobil-mobil yang tengah atau sedang diproduksi. Perihal mobil yang sudah beredar di jalan dan sudah dipakai masyarakat, Sudirman mengatakan tidak akan ditarik kembali untuk dimodifikasi.

"Kalau yang sudah LCGC yang kecil itu ya terus saja," tambahnya.

Sudirman juga mengatakan hal senada dengan Hidayat. Menurutnya butuh waktu 3 bulan untuk memodifikasi dan memproduksi lubang pengisian BBM pada mobil LCGC. Begitu juga dengan Pertamina dan SPBU lain yang akan menginventarisasi SPBU yang nozzle-nya akan diubah menjadi lebih kecil.

"Nanti kementerian perindustrian mengeluarkannya kami ikut. Itu harus sesuai dengna nozzle yang dikeluarkan Pertamina. Nanti kalau SK sudah keluar semua merek kan harus mengikuti," tutupnya.




googletag.defineOutOfPageSlot('/4905536/detik_desktop/oto/parallax_detail', 'div-gpt-ad-1558277787290-0').addService(googletag.pubads());
(ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com