Pasar Mobil Listrik Sudah Matang, Insentif EV Harus Dorong Pengembangan Industri

Pasar Mobil Listrik Sudah Matang, Insentif EV Harus Dorong Pengembangan Industri

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 07 Agu 2026 14:31 WIB
Mobil listrik iCar V23 yang telah dimodifikasi
Pasar mobil listrik di Indonesia sudah terbentuk. Foto: Dok. iCar Indonesia
Jakarta -

Pasar mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia dinilai telah memasuki fase matang. Maka itu, kebijakan insentif BEV pemerintah ke depan disarankan tidak lagi berfokus pada pembentukan pasar, melainkan mendorong penguatan industri otomotif nasional.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Riyanto pada sesi Seminar GIIAS 2026 bertajuk Mengkaji Ulang Peta Jalan Industri Otomotif Nasional di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (5/8/2026).

"Kalau dari sisi BEV, (pangsa pasar) kita sudah lewat 10%. Kita sekarang 16%. Sudah lewat tipping pointnya, sudah jalur pasar. Kalau dibiarkan secara natural itu sudah bisa berkembang," ungkap Riyanto dalam pemaparannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa arah kebijakan pemerintah perlu berubah. Insentif, yang selama ini diberikan untuk mendorong adopsi kendaraan listrik di masyarakat umum, sebaiknya mulai diarahkan untuk memperkuat industri pendukung di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

"Jadi dari sisi roadmap, kaitannya adalah kita tak perlu lagi khawatir untuk memberikan insentif dengan tujuan mengembangkan pasar. Tapi kita harus bergeser, memberikan insentif dengan mengarahkan bagaimana pendalaman industrinya. Itu barangkali yang paling pokok buat kita," ujarnya.

Riyanto menilai langkah tersebut penting karena permintaan kendaraan listrik diperkirakan akan terus meningkat, baik di Indonesia maupun secara global. Jadi agar industri elektrifikasi di Indonesia punya daya saing, maka pemerintah wajib mendukung dengan insentif-insentif yang memudahkan.

"Kenapa ini penting? Karena memang BEV atau elektrifikasi ini akan terus berkembang, pasarnya juga akan terus meningkat. Ya, tadi sudah diprediksi juga, nanti barangkali pasar EV dunia akan mencapai 50%, di atas 50% dan seterusnya," katanya.

Riyanto menambahkan, fokus pengembangan industri otomotif nasional kini harus bergeser dari hanya memperluas pasar menjadi memperkuat kemampuan manufaktur dan industri komponen kendaraan listrik.

"Jadi kita tidak lagi memikirkan tentang pengembangan pasar, keterjangkauan harga bagi konsumen, tapi juga kita pikirkan daya saing dari industri manufaktur atau industri otomotif kita. Bagaimana kita mulai berpikir mentransformasi dari market, pengembangan pasar, menjadi pendalaman industri komponennya, karena di (kendaraan) ICE, kita sudah cukup dalam industri komponennya," tutup Riyanto.

Rencana Insentif BEV dari Pemerintah

Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap Presiden Prabowo Subianto bakal segera mengumumkan insentif untuk 500 ribu mobil-motor listrik. Tapi skema insentifnya belum diungkap secara detail.

"Saya pikir dua atau tiga pekan dari sekarang, presiden akan meluncurkan stimulus buat kendaraan listrik, termasuk 500 ribu motor dan mobil listrik. 100 persen PPnBM, PPN ya PPN, VAT ditanggung pemerintah, 40 persen untuk kendaraan listrik tertentu," ungkap Purbaya saat menjadi pembicara di Gaikindo International Automotive Conference (GIAC), ICE-BSD City, Tangerang, Selasa (4/8/2026).

Ketika ditanya lebih lanjut, Purbaya menyebut skemanya masih dihitung. Nantinya insentif itu akan langsung diumumkan oleh Prabowo. Insentif itu tampaknya akan mengacu pada baterai yang digunakan.

"Yang baterai nickel base sama lithium base agak beda sedikit," terang Purbaya.



(lua/rgr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads