Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Kamis 02 November 2017, 08:30 WIB

Laporan dari Jepang

Di Jepang, Pejalan Kaki Berasa di Surga dan Jadi Raja

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Di Jepang, Pejalan Kaki Berasa di Surga dan Jadi Raja Foto: Rangga Rahadiansyah
Tokyo - Jumat pagi di bulan Oktober, cuaca di Tokyo, Jepang, cerah. Jepang masih musim gugur. Matahari bersinar terang tanpa terhalang awan. Cuaca cerah saat itu tetap menghasilkan udara yang segar. Suhunya antara 15 sampai 18 derajat celcius. Sesekali angin berembus menerpa wajah. Dingin memang.

Saya berada di Jepang saat itu memenuhi undangan dari Toyota untuk menghadiri dan meliput acara Tokyo Motor Show 2017. Di Jumat pagi, ada waktu luang untuk sekadar jalan-jalan keliling kota.

Dari hotel kami menginap di Shinjuku, Tokyo, saya keluar sedari pagi. Lalu lalang orang Jepang berjalan kaki, lengkap dengan jas dan dasi, menjadi pemandangan pagi. Zebra cross dan trotoar di setiap titik di Shinjuku, pagi itu dipenuhi orang-orang yang berangkat ke kantor.

Saya memutuskan untuk jalan-jalan pagi, sekadar berolahraga sambil menikmati udara segar bersama satu orang kawan. Kata orang, Jepang adalah surganya pedestrian. Makanya, sambil jalan-jalan, saya dan satu orang kawan lagi memutuskan untuk jalan kaki menikmati kota Tokyo.

"Semua peraturan di Jepang memang mengutamakan pejalan kaki. Makanya ada asumsi bahwa pejalan kaki di Jepang adalah raja. Jadi, peraturan yang dibuat memang memberikan kenyamanan kepada pejalan kaki. Akibat peraturan tersebut menghasilkan anggapan bahwa Jepang adalah surga bagi pejalan kaki," begitu kata Ping Tjuan, pemandu wisata selama perjalanan Toyota Tokyo Motor Show Trip 2017 saat berbincang dengan saya. Ping-san--begitu panggilan akrabnya--sudah 22 tahun tinggal di Negeri Sakura.

Trotoar di Tokyo sangat-sangat bersahabat bagi pejalan kaki. Tak ada yang menghalangi jalan di trotoar, apalagi pedagang kaki lima seperti di Jakarta. Juga tak ada sepeda motor yang berani menyerobot naik ke trotoar.

Trotoarnya sangat rapi, bersih, lebar, teduh, dan nyaman. Udaranya juga segar. Karenanya, saya yang berjalan kaki sekitar hampir 1 kilometer tak terasa sudah berjalan jauh. Hitung-hitung olahraga, saya dan teman memutuskan berjalan kaki ke Shibuya dari Shinjuku. Jaraknya sekitar 4 kilometer (km).

Pernyataan Ping-san bahwa Jepang adalah surganya pejalan kaki saya buktikan selama berjalan sejauh 4 km. Bahkan, pengendara di Jepang akan mengutamakan hak pejalan kaki.

Di persimpangan, misalnya, kendaraan akan berhenti di belakang garis putih ketika lampu merah. Mereka memberikan ruang untuk pejalan kaki yang ingin menyeberang. Pemandangan yang berbanding terbalik dengan Jakarta. Di Jakarta, masih banyak pengendara yang mengambil hak pejalan kaki, berhenti tepat di zebra cross bahkan sampai naik ke trotoar. Pengendara semacam itu di Jakarta sama sekali tidak menghormati hak pejalan kaki.

Kembali ke Jepang, saat saya berjalan kaki ke Shibuya, sesekali pesepeda lewat trotoar. Ya, pesepeda di Jepang juga berhak melewati trotoar. Tapi, mereka tetap menghormati pejalan kaki. Kalau ramai, mereka dengan sabar menunggu pejalan kaki. Jika sudah ada ruang, baru pesepeda itu melewati pejalan kaki.

Jepang memang surganya pejalan kaki. Tapi, bukan berarti pejalan kaki di Jepang bisa berjalan seenaknya. Semua ada aturannya, ada hak dan kewajibannya di jalan. Jika pejalan kaki ingin menyeberang dan lampu untuk penyeberang jalan menyala merah, mereka sama sekali tidak boleh menyeberang, meski tidak ada satu pun kendaraan yang melintas. Sebaliknya, jika lampu lalu lintas untuk kendaraan bermotor menyala merah, kendaraan itu harus berhenti di belakang garis stop meski tidak ada satu pun penyeberang jalan atau kendaraan lain yang melintas. Semua paham dan menerapkan hak dan kewajibannya.

Pemandangan yang bertolak belakang dengan Jakarta. Di Jakarta, lampu merah terkadang diserobot, pejalan kaki yang menyeberang pun sering tak dapat ruang.

Ternyata, ada sejarahnya mengapa Jepang saat ini ramah bagi pejalan kaki. Setidaknya menurut Ping-san, Jepang pernah merasakan booming kendaraan puluhan tahun lalu. Semua orang pengin naik mobil, jalanan Tokyo macet, polusi di mana-mana, sampai akhirnya pemerintah negeri itu berupaya keras dengan memperbanyak transportasi publik.

"Puncaknya di akhir '60-an. Dari situ, untuk mendapatkan SIM dipersulit, pajak kendaraan tinggi dan segala macam. Itu berevolusi dengan didukungnya infrastruktur angkutan umum yang sangat-sangat baik. Intinya adalah, bisa saya katakan Jepang punya sistem angkutan umum terbaik di dunia. Kita bicara mass rapid transitnya, baik itu subway, maupun kereta, itu terbaik di dunia. Karena Jepang pernah mengalami jadi negara yang nggak bisa ngapa-ngapain karena macet di mana-mana, dan polusi. Setelah Olimpiade Tokyo '64, Jepang berkembang sedemikian rupa. Untuk menghindari ke depan seperti itu, regulasi ditambah, transportasi publik diperbaiki. Dari situ orang banyak yang menggunakan transportasi publik dan berjalan kaki," cerita Ping-san.

Kini, Jepang maju dengan sistem transportasi yang memanjakan warganya. Menurut Ping-san, ketimbang beli mobil yang biaya kepemilikannya mahal--untuk parkir atau untuk sekadar mendapatkan mobil itu, naik sepeda ke stasiun lebih cepat. Dari stasiun ke tempat kerja tinggal naik kereta, dan tingkat ketepatan waktu keretanya dipastikan 99,8 persen.



"Di Tokyo, jarak antar-stasiun itu paling jauh 2 sampai 2,5 km. Bukan cerita yang aneh dari tempat tinggal saya, ke kiri 1 km ada stasiun, ke kanan 500 meter ada stasiun, tergantung mau ke rute mana," ujar Ping-san.

Semoga Indonesia, khususnya kota besar seperti Jakarta, bisa berbenah. Hal positif di Jepang bisa menjadi kiblat untuk memperbaiki yang belum beres di sini. (rgr/ddn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed