Viral di media sosial sopir Alphard ngamuk-ngamuk hantam motor menggunakan batu. Pria itu terlihat berulang kali memukul bagian depan motor.
Dalam video yang beredar di media sosial sebagaimana diunggah akun Instagram bintaro24jam.id dinarasikan, sopir Alphard tak terima usai spion mobilnya tersenggol pengemudi ojol. Sembari memegang batu bata, sopir Alphard itu kemudian beberapa kali menghantam bagian depan motor cukup keras. Bahkan ketika pengemudi ojol mengulurkan tangannya untuk meminta maaf, sopir Alphard mengacuhkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden itu terjadi di Jalan Veteran Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Dilansir detikNews, Kapolsek Pesanggrahan, Kompol Seala Syah Alam mengungkap pihak kepolisian masih mendalami insiden tersebut. Polisi juga telah melakukan pengecekan tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan pihak-pihak terkait.
Menurut dia, keterangan sementara yang diperoleh menunjukkan insiden bermula ketika motor bersenggolan dengan mobil hingga mengenai bagian spion.
"Ada keserempet mobil, itu kena spion. Si pemilik mobil nggak terima, dirusak (motornya) pakai batu dan sebagainya," kata Seala.
Dia menyebut, hingga saat ini belum ada laporan ke polisi dari kejadian itu. Polisi juga mendalami status Alphard yang ternyata terdaftar atas nama perusahaan.
"Itu mobil perusahaan, mobil itu atas nama perusahaan. Lagi kami dalami dulu," sambungnya.
Adapun di video terpisah, sopir Alphard tersebut sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Sopir Alphard juga berjanji untuk mengganti kerusakan yang disebabkan oleh arogansinya tersebut.
"Buat tadi mohon maaf Pak, tolong jangan dendam ke saya Pak. Kerusakan motor nanti saya akan ganti nanti ke bengkel mana atau memang bapak mau benerin sendiri terserah saya tanggung jawab. Saya mohon maaf," ucapnya dalam video yang diunggah manangseobeti_official.
Perilaku sopir Alphad bisa dibilang tergolong road rage. Praktisi Road Safety & Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) menjelaskan road rage adalah perilaku agresif atau arogan yang ditunjukkan oleh pengendara kepada pengguna jalan lainnya.
Jusri membeberkan pemicu pengemudi agresif di antaranya berhubungan dengan kekuasaan seperti pejabat, organisasi masyarakat, instansi hukum, rombongan seperti iring-iringan jenazah, motor fans club, dan sebagainya. Tak hanya itu dimensi kendaraan yang lebih besar, mahal dan mewah juga berpotensi jadi pemicu road rage.
"Kasus-kasus seperti ini banyak mengakibatkan tindak anarkis atau fisik, perusakan namun berakhir dengan tidak berlanjutnya menjadi kasus hukum sama dengan damai dengan pertimbangan restorative justice," ungkap Jusri.










































