Asosiasi Ungkap Kendala Sistem Bayar Tol Tanpa Berhenti

Asosiasi Ungkap Kendala Sistem Bayar Tol Tanpa Berhenti

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 14 Jul 2026 13:27 WIB
Infografis 7 ruas tol untuk bayar tol tanpa setop
Bayar tol tanpa berhenti. Foto: Infografis/Fuad Hasim
Jakarta -

Sistem bayar tol tanpa berhenti belum juga diimplementasikan di Indonesia. Padahal, transaksi tol tanpa setop sudah diwacanakan sejak enam tahun yang lalu. Asosiasi pengusaha jalan tol mengungkap kendala dari sistem bayar tol tanpa berhenti tersebut.

Di Indonesia sedang disiapkan sistem transaksi tol tanpa berhenti dan tanpa sentuh lewat penerapan Multi Lane Free Flow (MLFF). Penerapan sistem ini akan mengandalkan teknologi GNSS atau Global Navigation Satellite System. Jadi, tidak diperlukan gerbang tol lagi untuk transaksi jalan tol. Namun, sampai sekarang sistem bayar tol tanpa berhenti tersebut belum berlaku.

Menurut Plt. Sekretaris Jenderal Asosiasi Tol Indonesia (ATI) Kristianto, terkait dengan sistem MLFF ada masalah prinsip yang sulit dilaksanakan oleh badan usaha jalan tol (BUJT). Kristianto bilang, jika MLFF dilaksanakan, ada kemungkinan terjadi default atau gagal bayar terhadap bank.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi seperti kita ketahui bersama, sebagaimana yang kami terima di dalam rencana proses pelaksanaan MLFF ini, di mana jika MLFF ini dilaksanakan, maka pemerintah akan membentuk BUP, Badan Usaha Pelayanan. Badan Usaha Pelayanan ini akan melakukan proses pengumpulan (transaksi) tol. Dan untuk hal tersebut maka BUP ini akan mengambil alih hak pengumpulan tol BUJT," kata Kristianto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, kemarin.

ADVERTISEMENT

"Di sisi lain seperti kita ketahui bersama BUJT ini sebagai investor, hanya mempunyai hak pengumpulan tol saja. Dan hak pengumpulan tol ini saat ini sudah menjadi kolateral bagi kami kepada lender, sehingga kalau hak pengumpulan tol in dicabut oleh pemerintah, diberikan kepada BUP, maka secara otomatis kami akan mengalami default (gagal bayar) terhadap bank. Ini yang kami juga sangat sulit sekali menyampaikan kepada para lender dan para investor kami," ujarnya.

Kendala kedua adalah terkait akurasi hasil pengumpulan transaksi tol. Menurut Kristianto, proses pengumpulan transaksi tol dalam rangka pengembalian investasi saat ini akurasinya sudah bisa mencapai hampir 100 persen.

"Sementara secara teknis, disclaimer dari RITS (PT Roatex Indonesia Toll System), perusahaan pelaksana MLFF) yang telah disampaikan kepada kami waktu itu, akurasi mereka hanya 94 persen. Sehingga kami belum bisa mendapatkan jawaban atas selisih yang 6 persen tersebut jika kemudian sistem yang dibawa RITS tersebut diadopsi. Karena mereka menggunakan sistem GNSS," katanya.

"Perlu kami sampaikan, kita sudah berkenhendak untuk memutuskan menggunakan MLFF ini dalam rangka peningkatan pelayanan kepada pemakai jalan. Secara internal para BUJT sudah bisa melaksanakan ini secara internal. dengan akurasi dan teknologi yang ada pada kami saat ini," pungkasnya.



(rgr/dry)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads