Nasib Jadi Orang Indonesia: Penghasilan Kecil, Pajak Mobil Mahal

Nasib Jadi Orang Indonesia: Penghasilan Kecil, Pajak Mobil Mahal

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Jumat, 17 Apr 2026 13:16 WIB
Booth Suzuki di pameran otomotif IIMS 2025.
Komposisi pajak mobil di Indonesia vs ASEAN. Foto: Septian Farhan Nurhuda/detik.com
Jakarta -

Beratnya tinggal di Indonesia. Sebab, meski penghasilan rakyatnya kecil, namun pajak mobilnya menjadi salah satu yang termahal di dunia. Itulah mengapa, daya beli konsumen di dalam negeri belakangan makin melemah.

Menurut data yang dihimpun dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), GDP per kapita Indonesia hanya US$ 4.900 tahun lalu. Nominal tersebut lebih kecil dibandingkan Thailand yang mencapai US$ 7.300 dan Malaysia yang tembus US$ 12.600.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski GDP-nya kecil, namun pajak mobil di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dua negara tetangga tersebut. Jika di Indonesia komposisi pajak mobil bensin mulai dari 36,8 persen, maka di Malaysia hanya 10,1 persen dan Thailand 32,2 persen.

Jalan Raya di Kuala Lumpur, Malaysia.Jalan Raya di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto: Doc. SCMP

Komposisi pajak mobil di Indonesia terdiri dari berbagai komponen, yakni PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), Bea Balik Nama, PPN (Pajak Pertambahan Nilai), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), hingga biaya penerbitan STNK, pelat nomor, dan BPKB.

ADVERTISEMENT

Di Malaysia, tak ada pungutan BBNKB. Selain itu, luxury tax atau PPnBM-nya sangat kecil. Bahkan, tak sampai 1 persen. Sementara Thailand kurang lebih mirip Malaysia. Hanya saja, di Negeri Gajah Putih, PPN-nya lebih rendah dengan PPnBM lebih tinggi.

"Pajak di Indonesia relatif tinggi. Ambil contoh, misalnya mobil keluar pabrik harganya Rp 100 juta. Tapi kalau kalian mau beli, bayarnya Rp 150 juta. Jadi Rp 50 jutanya sendiri pajak," ujar Kukuh Kumara kepada detikOto di kantor Gaikindo, Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus).

Data yang sama mengungkap, beban pajak mobil di Indonesia berat lantaran PPnBM yang terlalu tinggi, yakni mencapai 95 persen untuk model tertentu. Selain itu, pungutan BBNKB juga membuat bobotnya menjadi lebih terasa. Itulah mengapa, perlu ada relaksasi agar harga kendaraan bisa lebih terjangkau.

"Saat ini, dengan GDP di bawah Malaysia, pajak di Malaysia lebih rendah. Jadi itu kajian-kajian yang perlu dilakukan, supaya kita nggak egois dan masyarakat merasakan manfaatnya. Kembali, biar industri tumbuh, ekonomi juga tumbuh," tuturnya.

"Indonesia saat ini GDP-nya di kisaran US$ 5 ribu, Malaysia berapa, Thailand berapa, kita bisa bikin perbandingan," kata dia menambahkan.




(sfn/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads