Senin, 15 Apr 2019 19:51 WIB

Indonesia Kejar Renault dan Volvo Bangun Pabrik Kendaraan Listrik

Ridwan Arifin - detikOto
Renault Foto: Rangga Rahadiansyah Renault Foto: Rangga Rahadiansyah
Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia saat ini tengah gencar mengedepankan tren kendaraan listrik, sebab target seperempat produksi kendaraan listrik di tahun 2030 harus tercapai.

Seperti detikcom kutip dalam laporan Bloomberg, Senin (15/04/2019), Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Harjanto menyatakan Indonesia tengah membuka peluang investasi bagi pabrikan Volvo dan Renault untuk mempertimbangkan membangun pabrik atau unit perakitan di pasar mobil terbesar se Asia Tenggara.



Lanjut Harjanto, pada 2030 produksi kendaraan listrik di Indonesia dapat mencapai 750 ribu unit, dari total produksi kendaraan 3 juta unit pada tahun yang sama, sekitar 25 persen kendaraan listrik akan mewarnai jalanan Indonesia.

Sambung Harjanto, Cadangan nikel menjadi salah satu keuntungan Indonesia, sebab menjadi bahan baku dalam pembuatan baterai. Satu perusahaan sudah mulai memproduksi bahan baku untuk baterai listrik, begitu fasilitas produksi baterai sudah ada, maka akan mudah menarik produsen kendaraan.



"Merakit itu mudah, jadi kita harus menguasai industri hulu," kata Harjanto seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (15/04/2019).

"Kami ingin membuat komponen di sini. Itu sebabnya kami sekarang mencari pembuat baterai karena kami memliki bahan bakunya," ujar Harjanto.

Chief Operating Officer PT Maxindo Renault Indonesia Davy J. Julian mengatakan bahwa pihaknya perlu untuk melakukan studi kelayakan terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah Renault akan berinvestasi di Indonesia. (riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed