Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Senin 12 Mei 2014, 09:27 WIB

AHM Berikan Apresiasi Bagi Para Pejuang Kehidupan

- detikOto
AHM Berikan Apresiasi Bagi Para Pejuang Kehidupan
Jakarta -

Selain menggelar bazar motor sport terbesar di Indonesia dalam Ekspedisi Nusantara Roadshow, PT Astra Honda Motor (AHM) juga memberikan apresiasi kepada tiga pejuang kehidupan yang telah berkontribusi terhadap masyarakat di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Apresiasi diberikan dalam bentuk bantuan uang tunai serta perlengkapan sesuai kebutuhan profesi para pejuang kehidupan.

Para pejuang kehidupan yang dipilih AHM bersama main dealer DKI Jakarta – Tangerang (PT Wahana Makmur Sejati), Sumatera Utara (CV Indako Trading Co.) dan Jawa Barat (PT Daya Adicipta Mustika) merupakan sosok yang mendedikasikan dirinya untuk berbagi ilmu dan waktu tanpa kenal lelah kepada pendidikan anak-anak di sekitarnya.

Ketiga sosok pejuang kehidupan tersebut adalah Fadlani (62), guru honorer yang setia mengajar meski hanya digaji Rp 300.000 setiap bulannya. Untuk mencukupi kebutuhannya, Fadlani berjualan susu keliling usai mengajar. Sosok lain adalah Ricky Amsal Meliala (31) yang membagikan ilmu fotografinya secara cuma-cuma pada remaja kurang mampu di Medan. Demikian pula Sahri (48) yang mendirikan dan mengurus Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan di Cimahi.

“Tidak hanya berhenti di tiga sosok pejuang kehidupan ini, kami akan terus mendukung para pejuang kehidupan lainnya yang membantu masyarakat menggapai kehidupan yang lebih baik. Kami berharap kegiatan ini juga dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk menyebarkan semangat berbagi seperti yang dilakukan para Pejuang Kehidupan,” jelas A. Indraputra selaku GM Marketing Planning and Analysis Division AHM.

“Ekspedisi Nusantara Roadshow, 80 Kota, 3 Motor Jagoan, Satu Hati” digelar mulai 3 Mei hingga 14 Juni 2014 di 7 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.

Fadlani, Pejuang Kehidupan Jakarta



Sudah 24 tahun Fadlani mengajar di Madrasah sebagai guru honorer dengan upah Rp 300.000 sebulan. Padahal dia harus menghidupi ketujuh anaknya. Maka pada sore hari usai mengajar, Fadlani beralih profesi menjadi penjual susu keliling. Setiap hari Fadlani menempuh jarak kurang lebih 10 km dari rumahnya di Mampang Prapatan – Jakarta Selatan hingga ke area Cipete – Jakarta Selatan menggunakan sepeda ontel.

“Saya pikir punya ilmu kalau tidak dibagikan, dosa. Walaupun anak banyak, saya kuat-kuatin saja. Saya tidak mengandalkan gaji dari pemerintah. Untuk sehari-hari saya mengandalkan keuntungan dari jual susu. Saya hanya berharap murid-murid saya cerdas. Saya ikhlas, tidak mengharapkan yang lain. Mudah-mudahan berkah,” ujar kakek dari 10 cucu ini.

Ricky Amsal, Pejuang Kehidupan Sumatera Utara



Niat sosial Ricky berawal dari seringnya dia melihat banyak anak remaja yang nongkrong tidak jelas atau ke warnet sampai malam. Terbersitlah ide untuk mengajak para remaja tersebut belajar fotografi supaya mereka punya keahlian khusus yang positif. Saat itu (2009) Ricky hanya bermodalkan satu kamera pocket, Nikon D60 dan handycam.

“Masalah muncul ketika kamera saya rusak. Wajar, cuma 1 tapi dipakai beramai-ramai. Terpaksa tabungan yang ada harus dikuras, itu pun tidak mencukupi untuk beli sebuah kamera baru. Tapi melihat begitu besarnya keinginan para remaja tersebut belajar dan memikirkan kegunaan dari keahlian tersebut bagi mereka di masa mendatang, kesulitan dan hambatan jadi sebuah tantangan yang menambah semangat untuk terus mengajari mereka,” ujar Ricky.

Ricky pun tidak menduga bisa mendapat gelar Pejuang Kehidupan dari AHM dan Indako. “Saya tak menyangka bahwa apa yang saya lakukan selama ini mendapat perhatian dari Honda.
Bagi saya, penghargaan ini bukan untuk saya saja tapi merupakan bentuk ajakan agar lebih banyak lagi yang “Satu Hati” memperhatikan kehidupan lingkungan sekitarnya,” pungkas Ricky.

Sahri, Pejuang Kehidupan Jawa Barat



Sejak tahun 2009, Sahri mendirikan Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan di kota Cimahi, Jawa Barat. Dengan moto “Dari Masyarakat Kembali ke Masyarakat”, Sahri menampung anak-anak jalanan dari berbagai macam latar belakang. Tanpa ada bantuan dana dari pihak mana pun. Dengan sabar dan tanpa pamrih, Sahri mengajari mereka baca tulis serta mengaji.

Selain menampung dan memberikan pendidikan gratis, Sahri dan istri juga merehabilitasi anak yang kecanduan narkoba. “Harapan saya, anak-anak ini bisa sukses dan lebih baik di masa depan,” ujar Sahri. Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan saat ini mampu menampung 40 anak dan saat ini sudah ada 25 anak yang menetap.

Anak-anak jalanan ini sehari-hari mengais rejeki dengan mengamen. Sebagian besar bahkan pecandu narkoba. Beruntung, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia kerap datang menjadi pengajar di rumah singgah milik Sahri.

(adv/adv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
FJB Otomotif +