Senin, 15/06/2009 11:22 WIB
Telanjangi Motor Harus Tega
Andri Haryanto - detikOto

Franky-owner Yasashi Garage (Ahy)

"Kalau mau bangun motor itu harus tega. Tapi untuk antisipasi modifikasi jadi melenceng builder harus punya konsep, mau lari kemana modifikasinya itu," jelas salah satu pentolan Street Demon Purnama Sultan yang juga menjadi home builder Glanets 77 ketika dihubungi detikOto, di Yasashi Garage di Jalan Lodaya 26, Bandung.
Mpur, sapaan akrab Purnama, menambahkan, merias penampilan asli motor tergantung dari konsep apa yang diharapkan si bikers. Bahkan, katanya, perombakan total bisa saja dilakukan.
"Misalnya harus memotong frame (rangka) motor hingga menyisakan leher rangka saja," sebut Mpur yang mengawali terjun ke desain motor dengan membangun cafe racer dari motor lawas pabrikan Jepang tahun '70-an.
"Atau, kita membuat sendiri parts yang sudah kita desain sebelumnya," sambungnya.
Dalam proses perombakannya, jelas Mpur, dirinya terlebih dulu membuat desain yang kiranya sesuai dengan keinginan bikers. Karena tak banyak bikers yang mau merombak total 'pakaian' yang telah dikenakan si kuda besi di awal keluar dari pabrikan.
"Kalau yang punya motornya mau total dirombak dengan senang hati kita kerjakan, kalaupun tidak, ya kita buat minimalis sesuai kesepakatan," jelasnya.
Japanese Style yang umum dikenal dengan ban besar, stang centang, dan knalpot ngolong (super trap), mau tak mau membutuhkan pecutan yang besar untuk dapat melaju mengimbangi stylenya, karenanya bore up diperlukan untuk menambah performa penampilan.
"Honda XL 125 Franky (owner Yasashi Garage) di bore up sampai dengan 300 cc dengan mengunakan seher (piston) Honda Phantom," sebut Purnama seraya menjelaskan motor tersebut menggunakan lost compression ala motor Eropa.
Bandung, imbuh Mpur, memang dikenal dengan ide liar dalam berkreasi. Maka dari itu kelompoknya ingin menonjolkan gaya khas modifikasi yang enggan disebut meniru gaya comotan desain modifikasi Negeri Sakura, meski inspirasi modifikasi didapatkannya dari para builder Jepang yang ada di Internet.
Modifikasi yang mewabah di Jepang di awal tahun '90-an, dikatakan Mpur, memang terbilang unik. Meski muda-mudi Jepang dulu menyomot gaya builder Amerika yang dikenal dengan desain Socal (South California), mereka mencoba adopsi dengan motor pabrikan negaranya sendiri.
"Kita juga berusaha untuk memiliki ciri khas yang menempel di Bandung," sebut Mpur seraya menambahkan kreatifitaslah yang membedakan builder Bandung dengan yang lainnya.
"Maka dari itu kita pake tag Bandung Custom Culture," sambung builder yang tengah mendandani skutiknya dengan gaya rockabilia full pinstripe di Yasashi Garage di Jalan Lodaya 26 sekaligus tongkrongan Street Demon.
( ahy / ddn )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga:
Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui Forum Otomotif di Detik Forum
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Rafika di rafika@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.506).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Rafika di rafika@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.506).
Forum detikOto
- Kirim Mobil | Kirim Alat ... cannonex
- Asuransi autocillin - sol... mursidi123
- Asuransi autocillin - sol... mursidi123
Berita Lain
-
Rabu, 25/11/2009 07:23 WIB
KTB
Off Road Sambil Beramal
-
Rabu, 25/11/2009 07:16 WIB
Mazda2 Meluncur Hari Ini
-
Selasa, 24/11/2009 18:57 WIB
Pajero Sport Bikin Rekor Penjualan di November
-
Selasa, 24/11/2009 17:05 WIB
Alat Uji Emisi Motor Kurang
-
Selasa, 24/11/2009 16:14 WIB
Bosch Ikut Sumbang Tata Nano
Indeks Berita







