Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Senin 16 April 2018, 17:28 WIB

Tak Ada Engine Brake, Ini Cara Antisipasi Motor Matik di Turunan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Tak Ada Engine Brake, Ini Cara Antisipasi Motor Matik di Turunan Motor matik mengalami rem blong di turunan tajam. Foto: Istimewa
Jakarta - Baru-baru ini terjadi kecelakaan yang melibatkan motor matik mengalami rem blong di turunan. Motor matik itu tampak melaju dengan kecepatan tinggi di turunan tanpa bisa memperlambat laju motornya lantaran rem blong. Beruntung, masih ada benteng penyelamat yang meredakan motor agar tidak terjun ke jurang.

Pengereman motor matik memang hanya mengandalkan rem depan dan belakang. Berbeda dengan motor bertransmisi manual yang bisa dilakukan engine brake dengan menggunakan gigi yang lebih rendah. Untuk itu, meski mengendarai motor matik terbilang mudah, pengendaranya harus paham betul mengoperasikan motornya dengan aman.



Meski tidak bisa memaksimalkan pengereman dengan engine brake, motor matik sebaiknya tidak hanya mengandalkan rem. Instruktur Safety Riding di Rifat Drive Labs, Andry Berlianto, mengatakan ada cara mengantisipasi seperti engine brake di motor matik.

"Cara mengantisipasinya adalah tidak menutup penuh gas saat turunan, saat gas ditutup penuh yang terjadi adalah free wheel (motor akan semakin meluncur, kondisi yang sama seperti ketika kopling pada motor manual ditarik), kerja rem semakin berat untuk menahan putaran roda," kata Andry kepada detikOto, Senin (16/4/2018).

[Gambas:Video 20detik]



Namun, itu bukan berarti Otolovers malah ngegas untuk menambah kecepatan saat turunan. Maksud dari jangan menutup penuh gas saat turunan ini adalah sedikit saja membuka gas agar mesin tetap aktif dengan transmisinya.

"Biasanya kan kalau pakai manual kita tutup gas, terus kan engine menderung kayak engine brake. Kalau matik, kalau dia nutup gas dia otomatis freewheel kayak kopling ditarik. Jadi si rem makin susah nahan rodanya. Antisipasinya adalah, ketika turunan tetap terbuka sedikit. Karena untuk menjaga engine masih aktif. Jadi kayak engine menderung. Dibuka sedikit, ngegantung, sambil mengoperasikan rem," kata Andry.



Selain itu, Andry juga menyarankan, saat motor langsung dipacu pada kecepatan rendah saat pemotornya sadar ada turunan di depan. Jika sudah ada di turunan, maksimalkan penggunaan rem belakang dan dibantu dengan rem depan secara bertahap.

"Jangan membiarkan roda terkunci atau menggesek piringan terlalu lama," ujarnya.

Rem blong bisa terjadi karena pengoperasian rem yang berlebih. Hal itu mengakibatkan kampas dan piringan rem menjadi panas.

"Efeknya tidak bisa menggigit maksimal," kata Andry. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed